Penggembala kambing yang pemalu..

Dikisahkan bahwa Umar bin khattab radiallahu anhu bertemu dengan seorang gembala bersama banyak kambingnya yang gemuk-gemuk. Umar berhenti dan ingin membeli satu dari kambing itu

Jual lah padaku seekor kambing gemuk itu, aku ingin memilikinya “, pinta Umar pada si penggembala.
Wah, aku hanya memberinya makan, bukan pemiliknya. Bila tuan ingin, belilah kepada majikanku..
Tidak mengapa diantara kambing yang begitu banyaknya ini engkau berikan satu. Lagi pula majikanmu takkan mengetahuinya.. Kamu pun akan mendapat uang dariku.. ” Umar terus membujuk..

Setelah melihat upaya Umar yang tak kunjung menyerah, akhirnya pemuda gembala tersebut berkata :
Bisa saja majikanku tidak tahu ada satu kambing yang hilang, atau dimakan serigala. Tapi Allah selalu tahu. Aku malu kepada-Nya yang selalu mengawasiku, seandainya aku melakukan hal itu..

Pada akhir cerita, Umar pun menebus budak penggembala untuk dimerdekakan karena terkesan akan ketinggian takwanya kepada Allah.

Nah, apakah kita tak malu seperti pemuda tersebut kepada Allah yang selalu mengawasi kita?? jangankan berbuat maksiat, melakukan hal yang tak bermanfaat saja bukankah seharusnya kita malu???.. semoga kita termasuk yang demikian. amiiinn..
(gianluigimario)

Renungan kecil : kita ini sebaik-baik makhluk jika….

Kalau mengingat dari surat at-tin, maka jelaslah manusia itu makluk ciptaan Tuhan yang terbaik, termulia (ahsanit taqwim).. bahkan melebihi malaikat. itulah fitrah dan potensi kita.

Namun disatu sisi lain, kita bisa jatuh menjadi seburuk-buruk makhluk ciptaan Tuhan (asfalas safiliin), bahkan lebih hina dari binatang. Sungguh sayang kalau demikian..

Nah Allah memberikan dua hal sebagai syarat agar kita tetap bisa jadi makhluk terbaik, yaitu :
- Beriman
- Beramal shalih..
Kedua hal tersebut dapat kita terjemahkan luas dan umum. Beraktifitas apapun kita, bila meniatkannya sebagai ibadah (atas dasar iman) serta mengikuti tuntunan agama (atas dasar amal termasuk yang shalih, yang dicontohkan), maka manfaat amal tersebut  niscaya diterima oleh Allah, dan semoga menjaga kita untuk tetap berada di derajat makhuk terbaik (ahsanit taqwim)bukan yang terjahat (ahsanit taqwim).,

Apakah kita sudah konsisten dengan dua hal tersebut? mari kita renungkan..

Bangil kota santri? Kenangan dari Masjid Agung..

Saya sering dengar Gresik dan jombang disebut (atau menyebut dirinya) kota santri, hal ini lumrah kalau merujuk banyaknya orang nyantri atau sarungan dibeberapa sudut kota.

Tapi Bangil kota santri? tentu saja ada benarnya masbro. Santri disini tak kalah banyaknya dibanding kota lain. Bahkan di depan kawasan industri sebesar PIER, berdiri megah sebuah pondok pesantren besar..

Nah kesan itu bakal semakin kental jika kita mengunjungi alun-alun Bangil. Bukan sekedar ngicipi kuliner disana yang mantap dilidah, atau Bakso urat joz gandos yang ngangeni, namun sempatkan shalat di masjid Jami’ (atau masjid agung), aura santri bakal kian tegas.

Masjid Jami’ Bangil pancen istimewa, walau tidak selebar masjib besar pada umumnya, namun panjangnya bisa tiga-empat kali masjid biasa, seperti masjid Ampel surabaya. Bahkan saking panjangnya, sampai tempat shalat 5 waktu digeser ke tengah masjid, agar tak terlalu jauh jalan kaki kedalam masjid menuju Mihrab utama (ruangan terdepan dipakai shalat jumat saja).

Yang menarik lagi adalah Pengajian. Ada seorang kiai sepuh yang mengisi pencerahan kalbu dari magrip sampe adzan isya, kebetulan kemarin dengan topik “pentingnya shalat”. Rasanya adem setelah seharian disibukkan urusan dunia kemudian mendapatkan guyuran makanan hati. Pak Kiai nggak ikut salat jamaah isya, namun langsung menuju tempat tukang becak, yang kemudian mengantar beliau (barangkali ke pondok yang diasuhnya serta ngimami disana).

Ada tempat wudhu didalam masjid!!! betul-betul mantap tanpa perlu jauh-jauh berwudhu ke ujung ruangan.. Hanya satu hal yang kurang dari masjid ini, yaitu area parkir yg kecil dan agak semrawut memakan trotoar.. mungkin Pemda perlu memperluasnya agar yang berkunjung semakin nyaman :) .

alun-alun bangil di malam hari

Ke alun-alun Bangil, nggak lengkap kalau tak mampir di Masjid Jami’. duhhhh..  kapan ya bisa ke Bangil lagi :) (gianluigimario)

Renungan malam : sudahkah kita ber tawadhu’/rendah hati?

Dari Iyadh bin Himar radiallahu anhu Rasulullah shalallahu alaihiwasallam bersabda ” Sesungguhnya Allah memberi wahyu kepadaku ‘bersikaplah rendah hati semua’ sehingga seseorang tidak merasa bangga atas orang lain dan seseorang tidak menganiaya orang lain “ HR Muslim.

Catatan kecil :

Allah menyuruh umat serta RasulNya untuk berendah hati (tawadhu’).
pengertian rendah hati disini mencakup dua Hal :
- tidak merasa dirinya lebih dari orang lain
- tidak zalim/ menganiaya hak orang lain.

Fudhail pernah berkata  : “Rendah hati itu bila kamu duduk dan patuh terhadap kebenaran, walau kebenaran itu datang dari anak kecil atau orang bodoh, kamu tetap menerimanya.”

Semoga kita termasuk yang demikian, tidak menyombongksn diri terhadap orang lain..(gianluigimario)

 

Sebuah renungan kecil : Apa cita-cita hidup kita?

Tulisan ini hanya sebuah renungan kecil buat saya sendiri, pembaca yang mau membaca silahkan, yang nggak berkenan yah lewatkan saja. Karena untuk pribadi,  maka tulisan ini tidak mengambil dari dasar manapun, murni pemikiran sendiri..

Ada sebuah film bagus yg didalamnya terdapat pertanyaan simpel : “apa cita-cita hidupmu ?” .. tokoh utama film tersebut tak mampu menjawab, perlu waktu beberapa lama. Kemudian setelah selesai, saya pun iseng menanyakan kepada diri sendiri  : “apa tujuan hidupmu, mario? “,
Rupanya nasib saya tak beda dg si lakon utama, matt damon.. saya juga agak  susah menjawabnya. Maka saya buatlah coretan ini dan jadi sebuah gambar/sketsa :

Mulai dari gambar yang paling bawah : “Ahli/profesional”.
Ini dapat dimisalkan kita seorang mekanik, maka kita ingin menjadi seorang yg ahli, cakap, pintar, cerdas, atau singkatnya menguasai bidang tersebut. Ini yg saya maksud.
Imho, ahli itu ada 2 : ahli teori atau ahli praktik.
Ahli di bidang blogging apakah suatu cita-cita? bisa jadi.. hehe

Kemudian tahap lebih tinggi : “Sukses atau kaya “.
Tak dapat dipungkiri dan nggak munafik, hampir semua manusia ingin sukses dan kaya. Orang yang ahli mekanik, atau ahli menulis akan lebih klop kalau kemudian meraup sukses dan mejadi berkecukupan (kaya).
imho, utuk menjadi kaya bisa lewat 2 juga : Karyawan, atau Pengusaha. Sesukses apapun kita jadi direktur misalnya, kalau masih ikut orang lain itu termasuk karyawan. Baru kalo usaha sendiri, tidak ikut siapa2, saya namai pengusaha. :)

Berikutnya “KELUARGA YG BAHAGIA“.
Ini juga umum, hampir tiap orang mencita2kannya.. siapa tak ingin berkeluarga, bahagia pula.. keluarga itu sunah Nabi, juga separuh agama.. Kalau kita berkecukupan, uang bisa jadi akan memudahkan hidup bahagia. Mau beli apa saja, ingin apa saja bila sukses semua akan mudah diraih. Meski kaya bukan jaminan, karena bahagia hakiki ada dari dalam hati yang merasa cukup..cmiiw.
Bahagianya keluarga, dapat kita ukur dari kebahagian Isteri dan anak..
Dengan keluarga yang tenteram, kita dapat beribadah dg tenang untuk bekal kita nanti merindukan surga.

Kebanyakan orang, mungkin hanya sampai ahli, kaya, atau tenteram berumahtangga. Namun ada satu cita2 lagi yg tidak bisa saya bahas karena belum cukup ilmu, yakni “menjadi kekasih Tuhan“.
Semua hal sebelumnya dapat mengantarkan kesana bila kita mampu menguasainya bukan dikuasai hal2 tersebut.
Kita ahli –> membantu orang lain lewat keahlian kita
kita kaya –> beramal menyantuni sesama dg harta
kita bahagia –>mengantar mencari RidoNya..

Nah, pertanyaan yg gampang-gampang susah yaitu : ” apa sih sebenarnya yg jadi tujuan hidup kita? ” Setelah itu baru dilanjut dg pertanyaan lagi : ” sudahkah apa yg kita lakukan selama ini berada pada jalan untuk mewujudkan cita-cita itu..?”
apa ada 1 diantara 4 hal diatas? atau ada pendapat lain?

Semoga berguna… (gianluigimario)