Seorang ustadz menceritakan sebuah hadis populer, yang mungkin pernah saya tuliskan, tentang pertanyaan sahabat kepada Rasulullah shalallahualaihi wasallam..
” Ya Rasul, kapan kiamat itu datang?.. ” tanya sahabat itu
” Apa yang sudah kamu persiapkan untuk hari kiamat itu? ..” Rasul balik bertanya
Sahabat tersebut terdiam sejenak, kemudian berujar :
” Ya Rasul, saya tidak punya banyak puasa, saya juga tak punya banyak shalat, namun saya sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.. “
” Kamu akan bersama orang yang kau cintai.. “ jawab Beliau..
Menarik sekali jika kita pun menanyakan hal serupa kepada diri sendiri, hal apakah yang telah kita persiapkan untuk bekal nanti.. Mungkin yang dimaksudkan hadis diatas adalah tentang banyaknya puasa sunnah dan shalat nafilah, karena perkara fardu jelas wajib dikerjakan.. tanpa peduli berapa banyaknya, kecuali dengan uzur..
Kata-kata kuncinya adalah “mencintai” Allah dan Rasul telah cukup menjadi bekal persiapan. Namun ketika kita mencintai Allah, bukankah otomatis apapun yang Dia minta kita tunaikan, yang dilarang-Nya kita jauhi.. Begitu pula dengan hal cinta Rasul, rasanya nggak sempurna kalau kita abaikan sunnah beliau.
Singkatnya memang “Cinta saja sudah cukup”, namun tuntutan kata cinta itu sendiri tentu searah dengan pengabdian dan ketaatan..
Adakah pencinta yang tak peduli dengan keinginan kekasihnya???.
Mulai dengan mencinta, kemudian taat, itulah bekal yang benar..
(gianluigimario)




