Menghadirkan Hati Dalam Shalat

Ibnu Qayyim rahimahullah  menguraikan wasiat Nabi Yahya bin Zakariya alaihimassalam  yang berbunyi :

وآمركم بالصلاة، فإذا صليتم، فلا تلتفتوا فإن الله ينصب وجهه لوجه عبده في صلاته ما لم يلتفت , رواه البخاري

“Dan aku memerintahkan kamu untuk shalat, jika kamu shalat maka janganlah kamu berpaling (menoleh) karena sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kewajah hamba tersebut dalam shalat selama dia tidak berpaling”. HR. Bukhari.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang iltifat (berpaling)nya seorang laki-laki dalam shalat, maka beliau bersabda : “ ( iltifat ) merupakan pencurian yang dilakukan oleh syetan dalam shalat seseorang. ( HR. Bukhari ).

Perumpamaan orang yang berpaling (iltifat) dalam shalatnya dengan pandangan ataupun hati sama seperti orang yang dipanggil oleh penguasa, kemudian dia berdiri di hadapan penguasa tersebut dan berbicara dengannya, ketika sedang berbicara orang tersebut menoleh (berpaling) ke kiri dan ke kanan, hatinya tidak sedang bersama penguasa tersebut sehingga dia tidak paham apa yang dibicarakan. Kira-kira tindakan apa yang akan dilakukan oleh penguasa tersebut menghadapi laki-laki ini?. Paling tidak penguasa tadi akan pergi meniggalkannya dalam keadaan marah, dan harga diri laki-laki tadi menjadi hilang di hadapan penguasa tersebut.

Manusia dalam melaksanakan shalat dikelompokkan menjadi lima tingkatan:

Pertama : tingkatan orang-orang yang zhalim terhadap dirinya, yaitu orang-orang yang tidak menyempurnakan wudhu’nya, waktunya, batasan-batasannya dan rukun-rukunnya.

Kedua : orang yang menjaga waktu shalatnya, batasan-batasannya, rukun-rukunnya dan wudhu’nya, tetapi dia tidak berusaha melepaskan dirinya dari godaan, sehingga dia hanyut dalam godaan dan berbagai macam fikiran yang timbul.

Ketiga : orang yang menjaga batasan-batasan shalat, rukun-rukunnya dan berusaha untuk melawan godaan dan pemikiran yang muncul, akhirnya dia larut dalam usaha melawan syetan supaya tidak mencuri shalatnya, maka berarti dia berada dalam shalat dan jihad.

Keempat : orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun dan batasan-batasannya, hatinya larut menjaga batasan-batasan dan hak-hak shalat tersebut sehingga tidak ada yang luput, semua perhatiannya tercurah untuk mendirikan dan menyempurnakan shalat sebagaimana mestinya , berarti hatinya larut dalam shalat dan beribadah kepada Allah tabaaraka wata’ala.

Kelima : orang yang melaksanakan shalat seperti tingkatan ke empat tadi, ditambah lagi dia meletakkan hatinya sepenuhnya di hadapan Allah ‘azza wajalla, dia melihat kepada Allah dengan hatinya dan mengawasi-Nya, hatinya dipenuhi dengan rasa cinta dan pengagungan kepada Allah, seolah-olah dia melihat dan menyaksikan-Nya. Godaan-godaan sudah hilang darinya, sudah tidak ada lagi godaan yang jadi penghalang antara dia dengan Tuhannya. Orang yang seperti ini dibanding dengan yang lainnya jelas lebih utama sebagaimana perbedaan antara langit dan bumi, karena dia dalam shalatnya sibuk dengan Tuhannya ‘azza wajalla, dia tentram bersama-Nya.

Orang-orang di tingkat pertama akan mendapat ‘iqab(hukuman), yang kedua akan dihisab, yang ketiga (shalatnya) jadi penghapus dosa-dosanya, yang ke empat mendapatkan balasan/pahala dan yang kelima menjadi orang yang akan di dekatkan kepada Allah, karena dia menjadikan ketentraman bersama Allah dalam shalatnya. Siapa saja yang tentram hatinya dengan shalat di dunia ini, maka dia akan tentram juga di akhirat karena dekat dengan Allah. Orang yang tentram hatinya bersama Allah di dunia, maka hati-hati yang lainpun akan merasa tentram karenanya, sedangkan orang yang tidak tentram hatinya bersama Allah maka jiwanya akan terpecah belah mengikuti dunia dengan penuh kerugian.

Diriwayatkan bahwa seorang hamba tatkala berdiri untuk melaksanakan shalat maka Allah ‘azza wajalla berfirman : angkat hijab ( pembatas ) antara Aku dengan hamba-Ku, namun tatkala ia berpaling maka Allah berfirman: turunkan hijab ( kembali ). Berpaling (iltifat) di sini ditafsirkan dengan berpalingnya hati orang tersebut dari Allah ‘azza wajalla kepada selain-Nya, maka ketika dia berpaling kepada selain-Nya diturunkanlah hijab antara Dia dan hamba-Nya, ketika itulah syaitan datang dengan urusan dunia, dia memperlihatkan kepada orang tersebut godaan dunia di cermin (sehingga kelihatan nyata). Jadi ketika seorang hamba menghadap Allah dengan hatinya dan dia tidak berpaling, maka syetan tidak sanggup menghalangi antara hati tersebut dan Allah, syetan hanya akan masuk ketika ada hijab. Ketika hamba tersebut kembali kepada Allah dan menghadirkan hatinya maka syetan akan lari, jika dia berpaling lagi (dari Allah) maka syetan akan datang. Demikian seterusnya antara hamba dan syetan selama dalam shalat.

Manusia hanya akan sanggup untuk menghadirkan hatinya dalam shalat dan menyibukkan hati tersebut dalam shalat bersama dengan Tuhannya ketika dia bisa menguasai syahwat dan hawa nafsunya, kalau tidak maka hatinya akan dikuasai oleh syahwat dan dipenjara oleh nafsu, ketika itulah syetan mendapatkan tempat untuk duduk dengan nyaman di dalamnya sehingga dengan mudah dia menggoda dengan was-was dan berbagai macam fikiran ( dunia ).

Disadur dari kitab Syarah wasiat Yahya bin Zakariya, oleh Ibnu Qayyim.

Ringkasan :
Shalat adalah komunikasi dengan Allah, yg hanya dapat diwujudkan dg menghadirkan hati..
Menurut ibnu Qayyim, shalat ada 5 tingkat:
1. Lalai –>tidak menyempurnakan wudhu, waktu, batas, dan rukunnya.
Disepakati para ulama, org ini akan mendapat hukuman krn salatnya..
2.Hanyut –> menjaga semua hal diatas tapi pikirannya hanyut kemana2.
Dia dihisab, salatnya akan diperiksa dg teliti dan ketat..
3.Berjuang–> menjaga hal2 diatas, ditambah ia berjuang keras untuk mengatasi fikirannya..
Orang ini akan dihapus dosa2nya.
4.Tercurah –>semua hal diatas, ditambah hatinya larut tercurah dlm shalat dan ibadah..
Dia akan diberi pahala karena shalatnya.
5.Meletakkan hati–>seperti tingkatan ke empat, ditambah dia meletakkan hatinya sepenuhnya di hadapan Allah.
Ganjarannya adalah didekatkan kepada Allah, tenteram bersama-Nya

Hanya dengan menguasai syahwat dan hawa nafsu kita akan sanggup untuk menghadirkan hati dalam shalat.

Sulit sekali sahabat untuk mencapai tingkatan kelima, tetapi berupayalah semampu kita, InsyaAllah Dia akan menolong.

Semoga demikian.
Monggo di share..

8 thoughts on “Menghadirkan Hati Dalam Shalat

  1. gogo says:

    smoga shalat ane gak bolonk2 lagi y Allah..

  2. yisha says:

    aku ngga mungkin khusyu sob 😦

  3. gogo: itu malah sebelum nomer satu yah 🙂
    yisha : belum upaya kok nyerah.. 😀

  4. Dr.Feelgood says:

    segerakanlah sholat selagi masih ada waktu, alhamdulilah, masbro blog ini selalu mengingatkan saya untuk berbuat yg lebih baik.

  5. Tulus Budi says:

    Amiennnn… Artikel pencerdasan Iman… thx masBroo….

  6. […] point penting Khusyuk dalam pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah : – Tidak berpaling (pandangan maupun hati ) – […]

Please leave a comment, thanks..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s