Zuhud : Ketenangan dan Benteng

Dalam agama Islam, pemahaman zuhud bukanlah hidup membenci dunia dan mengisolir diri dari keramaian dengan mengabaikan kewajiban menafkahi keluarga. Zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta. Zuhud dalam pengertian yang benar adalah menekan hasrat dan menjauhkan diri dari kesenangan dunia untuk mencapai kesenangan akherat.  Zuhud terhadap dunia berarti lebih yakin dan percaya apa yang ada di tangan Allah dari pada apa yang ada di tangan manusia.

Hadist rasul SAW:

مَنِ ازْ دَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ زُهْدًا     لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ اِلاَّ بُعْدًا

“Barangsiapa yang di anugerahi ilmu oleh Allah, akan tetapi tidak semakin bertambah  ke-zuhud-annya, maka sejatinya orang yang seperti ini bukan bertambah melainkan semakin jauh dari jalan Tuhannya”.

Sikap zuhud dapat memberikan ketenangan kepada seseorang. Ia adalah benteng dari sikap sombong, kikir, serakah dan bermewah-mewahan. Kehancuran seseorang dan bahkan sebuah bangsa dicirikan dengan keempat sikap di atas.

Zuhud membebaskan dirinya secara penuh dari segala hal yang menghalangi kebebasannya.

Menurut Hasan Al-Bashri dunia merupakan tempat kerja bagi orang yang disertai perasaan tidak senang dan tidak butuh kepadanya, dan dunia merasa bahagia bersamanya/ dalam menyertainya. Barang siapa menyertainya dengan perasaan ingin memilikinya, dan mencintainya, dia akan dibuat menderita oleh dunia serta diantarakan pada hal-hal yang tidaktertanggungkan oleh kesabarannya.

Sesungguhnya zuhud terhadap dunia adalah suatu maqam ( kedudukan) yang mulia diantara kedudukan orang – orang yang menempuh jalan akherat. Orang disebut zuhud karena hatinya tidak tertarik dengan harta kekayaan duniawi. Orang itu lebih tertarik dengan kepentingan akheratnya.

Tanda-tanda zuhud, kadang-kadang ada yang berpendapat bahwa meninggalkan harta itu zuhud. Sebenarnya tidaklah seperti itu. Karena meninggalkan harta dan menimbulkan keburukan itu sangat mudah dilakukan oleh orang-orang yang ingin dianggap zuhud. Banyak orang-orang yang makan sedikit, dan hidup sangat sederhana-bahkan-miskin lalu tekun beribadah dan ia mendapat pujian dan predikat sebagai zuhud. Kemudian ia merasa sangat senang dipuji demikian. Hal yang demikian bukanlah yang dimaksudkan zuhud. Secara lahiriah mereka zuhud, namun secara batiniah bahwa jiwanya dipenuhi oleh sifat riya’ dan ujub. Mereka mengikuti hawa nafsunya.

Oleh karena itu mengetahui zuhud adalah sukar.  Bahkan mengetahui apakah seseorang itu benar-benar zuhud pun sangat sulit. Yang penting adalah berpegang pada batin.Ada tiga tanda Zuhud yang dirasakan dalam batin seseorang :

  1. seseorang tidak merasa gembira terhadap sesuatu yang ada di depannya ( harta dan sebagainya) dan tidak akan sedih jika sesuatu itu tidak ada di depannya. Sebagaimana firman Allah ,’ Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang terlepas darimu dan agar kamu jangan gembira terhadap sesuatu yang diberikan kepadamu.’ QS al-Hadid 23.
  2. seseorang tidak risau jika dicela dan tidak berbangga hati jika dipuji. Mendapat pujian atau hinaan sama saja dalam bersikap.
  3. merasa sangat cinta kepada Allah dan perasaan itu membuat ketaatannya menjadi sangat kuat.

Imam al-Ghazali mengatakan ,’zuhud berarti membenci dunia demi mencintai akherat. Zuhud bisa juga berarti membenci selain Allah demi mencintai Allah.’

Zuhud menurut Nabi serta para sahabatnya, tidak berarti berpaling secara penuh dari hal-hal duniawi. Tetapi berarti sikap moderat atau jalan tengah dalam menghadapi segala sesuatu, sebagaimana diisyaratkan firman – firman Allah yang berikut : ”Dan begitulah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil serta pilihan”. “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. Sementara dalam hadits disabdakan : “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari”

Zuhud disini berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada ditangan, dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari tangannya. Bagi Abu Wafa al-Taftazani, zuhud itu bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu. Mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. Lebih lanjut at-Taftazani menjelaskan bahwa zuhud adalah tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan terkadang seorang itu kaya, tapi disaat yang sama diapun zahid. Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf adalah para hartawan, tapi keduanya adalah para zahid dengan harta yang mereka miliki.

Bagaimana caranya agar kita bisa zuhud? Imam Al-Ghazali memberikan tiga tips. Pertama, memaksa diri untuk mengendalikan hawa nafsunya. Kedua, sukarela meninggalkan pesona dunia karena dipandang kurang penting. Ketiga, tidak merasakan zuhud sebagai beban, karena dunia dipandang bukan apa-apa bagi dirinya.

Sementara itu, Ibrahim bin Adham pernah ditanya seorang lelaki, “Bagaimana cara engkau mencapai derajat orang zuhud?” Ibrahim menjawab,”Dengan tiga hal, pertama, aku melihat kuburan itu sunyi dan menakutkan, sedang aku tidak menemukan orang yang dapat menentramkan hatiku di sana. Kedua, aku melihat perjalanan hidup menuju akherat itu amat jauh, sedang aku tidak memiliki cukup bekal. Ketiga, aku melihat Rabb Yang Maha Kuasa menetapkan satu keputusan atasku, sedang aku tidak punya alasan untuk menolak keputusan itu.” (Abu Ishak Ibrahim bin Adham Al Balkhi)

Dari berbagai sumber.

Tanggapan singkatdan ringkasan :
Zuhud dalam pengertian yang benar adalah menekan hasrat dan menjauhkan diri dari kesenangan dunia untuk mencapai kesenangan akherat.
Ciri orang yang zuhud :

  1. seseorang tidak merasa gembira terhadap sesuatu  dan tidak akan sedih jika sesuatu itu tidak ada
  2. seseorang tidak risau jika dicela dan tidak berbangga hati jika dipuji.
  3. merasa sangat cinta kepada Allah dan perasaan itu membuat ketaatannya menjadi sangat kuat.

Orang yang zuhud tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya.
Ya Allah genggamkan harta di tanganku, jangan hatiku..Sucikan hatiku hanya untukMu..”

Demikian, monggo dishare..

Advertisements

6 thoughts on “Zuhud : Ketenangan dan Benteng

  1. Dr.Feelgood says:

    islam memberikan contoh yg baik, menyeimbangkan antara urusan dunia dan juga urusan akhirat. terima kasih banyak mas, nice. lanjutkan. 😀

  2. scnk says:

    eiiit..modart

  3. […] akan mencintaimu”  (HR Ibnu Majah dan imam yang lainnya dengan sanad yang shahih) Ringkasnya : Zuhud adalah kunci untuk dicintai Allah, juga kunci agar dicintai manusia. Untuk mendapat cinta Allah, […]

Please leave a comment, thanks..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s