Dongeng seekor ikan.

Dahulu kala, disebuah tempat di negri Melayu, hiduplah seorang perempuan tua. Perempuan ini begitu tua dan miskin. Begitu miskinnya, sehingga ia hanya memiliki satu pakaian yang sudah compang-camping untuk menutupi tubuhnya yang lemah dan sangat kurus. Karena begitu lemahnya perempuan tua itu, tidak pernah ada orang yang menerimanya untuk bekerja sebagai buruh penuai padi. Untuk mempertahankan hidupnya, terpaksa sang nenek harus pergi mencari makan setiap hari. Bila ia beruntung, ia akan mendapatkan sedikit makanan untuk hari itu, namun sering juga beliau tidak berhasil menemui makanan sampai dua atau tiga hari lamanya. Sewaktu-waktu, sang nenek berhasil mengumpulkan semua tenaganya yang tersisa, dan mampu mengumpulkan sedikit bambu untuk dijual di pasar serta ditukarkan dengan sejumput makanan.

Nenek itu sendirian tinggal di sebuah gubuk reot yang selalu bocor dan hampir rubuh.

Yang tidak umum dari perilaku perempuan ini adalah bahwa ia tidak pernah mendengar dan mengenal Tuhan. Padahal di negri itu Tuhan disebut “Allah”. Tapi sang nenek tidak pernah tahu, dan karena tidak tahu apa yang harus dipikirkan, maka sang nenek berpikir kalau alam semesta ini mustinya telah tercipta dengan sendirinya saja.

Suatu hari, sang nenek sudah begitu putus asa. Ia tidak punya apa-apa untuk dimakan selama beberapa hari itu. Ditengah keputusasaannya, dia meratap: “Ah..betapa kejamnya hidup ini..bisa matilah saya kalau begini..”

Ditengah kelaraannya, sang nenek pergi ke hutan untuk mencari dedaunan demi menganjal perutnya yang tengah kesakitan karena kelaparan. Lambat sekali nenek berjalan, terlebih lagi jalannya menanjak.

Dari kejauhan sang nenek melihat sebuah sungai yang sangat kering, begitu keringnya sehingga ikan-ikan yang ada menggelepar-gelepar begitu saja di permukaan lumpur sungai yang kering.
Rejeki nomplok!!..” pikir sang nenek, “Saya bisa makan ikan, dan sebagian lagi bisa saya bawa kepasar untuk ditukar dengan beras…
Kemudian ia melihat seekor ikan yang jauh lebih besar dari semua ikan yang lain. Selain jauh lebih besar, ikan ini sepertinya bisa berbicara. Sang ikan berkata keras sambil memandang ke langit:
Oh Allah…oh Allah..kami memohon padamu, turunkanlah hujan!!!..

Segera setelah ikan besar itu berujar, turunlah hujan yang sangat derasnya. Begitu derasnya sehingga airnya memenuhi sungai itu. Sungai mengalir kembali dan ikan-ikan itu berenang bebas, selamat dan lolos dari tangkapan sang nenek. Sang nenek sangat terperanjat dan terpesona akan apa yang baru saja terjadi, melebihi rasa sedihnya akan lolosnya ikan-ikan itu.
Wah, raja besar yang dipanggil-panggil sang ikan tadi, namanya Allah, saya harus melakukan hal yang sama..siapa tau..jangan-jangan si raja itu sedang menunggu-nunggu permohonan saya…tapi saya tidak perlu minta hujan, saya mau minta uang..

Mulai hari itu dan seterusnya, sang nenek renta menjadi sibuk akan berdoa. Ia berdoa siang dan malam, setiap saat, setiap hari.Beliau terus menerus berujar:
Allah..oh Allah…Kau telah menolong si raja ikan..maka tolonglah saya..saya minta uang!!..

Adalah sepasang suami istri tetangga sang nenek yang merasa sangat terganggu akan perilaku sang nenek, dan menhardiknya untuk menghentikan kelakuan “tidak masuk akal” ini.
“Berhentiii teriak-teriak begitu perempuan tua!..kalau kau tidak berhenti…gubukmu akan kami bakar..dan kau akan terusir dari sini…” kata mereka.

Tapi sang nenek tidak peduli, terus saja berdoa siang malam. Sang tetangga merasa tak tahan lagi, dan merencanakan untuk “memberikan pelajaran” padanya. Sang suami kemudian menyuruh istrinya mengumpulkan sampah dan pecahan tembikar atau perabotan lainnya sebanyak mungkin, kemudian dikumpulkan kedalam sebuah karung. Malam harinya sang suami memanjat ke atap gubuk sang nenek, semerta-merta dijatuhkannya karung itu kedalam gubuk.
Ha ha..rasakan perempuan tua!..inilah rejeki dari langit yang kau tunggu-tunggu…” Pikirnya.

Sang nenek tentu saja kaget mendengar suara gedebuk, sebuah benda serupa karung jatuh dari lubang atap gubuknya. Setelah dihampiri dan dibuka, terlihatlah isi karung itu. Sangat terkejutnya ia, karena isi karung yang “jatuh dari langit” itu benar-benar uang emas dan perak.
Allah..oh..Allah..trimakasih!!..trimakasih!!…Kau sangat Pemurah..aku memuji namaMu!!…” Seru sang nenek terharu.

Kisah sang nenek yang mendadak menjadi kaya, seketika tersebar keseluruh negri. Walaupun menjadi kaya jauh dari yang pernah diimpikan, sang nenek tidak pernah menjadi sombong ataupun pelit. Banyak sekali orang yang ditolongnya.Sang tetangga tentu saja menjadi lebih terperanjat lagi. Suatu hari ia berkata pada sang nenek:

Hai perempuan yang baik (katanya merayu), tahukah engkau bahwa akulah yang menjatuhkan karung dari atas gubukmu..kalau aku tidak melakukannya mana mungkin Allah merubahnya menjadi emas dan perak..??. Oleh karena itu, kau harus melakukan hal yang sama untuk membalas budiku..supaya adil..” Pinta sang tetangga.

Halah!! benarkah itu??..baiklah kalau memang begitu..tapi bagaimana caranya..??” Katanya.

Ya isi saja karung dengan sampah dan pecahan tembikar sebanyak-banyaknya…jangan lupa nek, saya mau dua karung..yah..dua karung..supaya saya jadi lebih kaya raya..” Ujarnya serakah.

Oh baiklah, sekarang kamu pulang saja ke rumah dan mulai berdoa..” Kata sang nenek.

Sang tetangga kemudian melesat pulang dan mulai berdoa.

Dengan susah payah, sang nenek tua akhirnya berhasil memenuhi dua karung, memanjat, dan menjatuhkannya dari atap rumah sang tetangga ditengah malam buta.

Tak sabar lagi, sang tetangga dan istrinya lari kegirangan serentak langsung membuka karung-karung itu. Setelah diobrak-abrik sampai isinya bertebaran memenuhi rumahnya, ternyata isi dua karung itu tetap sampah dan pecahan tembikar. Terkuasai oleh rasa kecewa dan amarah, sang suami jatuh sakit parah. Setelah lama, akhirnya ia sembuh, namun penyakitnya telah meninggalkan cacat tubuh yang permanen. Karena cacatnya, ia tidak pernah mampu bekerja lagi, sehingga menjadi semakin miskin dan miskin, semiskin sang perempuan tua itu dulu.
Dari tauuu.

Beberapa nilai nasihat :
Dongeng diatas sepintas terdengar sepele, tetapi dapat kita ambil beberapa hikmahnya
* Meskipun nenek ini tak kenal tuhan (karena tidak tahu), tetapi keyakinannya amat tinggi.
* Nenek ini memelihara diri dari meminta-minta kepada orang lain.
Ia lebih memilih menahan lapar dan memakan rumput ketimbang mengemis kepada manusia.
* Ia istikamah dalam berdoa, tanpa putus asa.
Demikian pula cara yg baik dlm berdoa, yakni diantaranya yakin dikabulkan dan tak berputus asa..
* Ketika mendapat Rahmat, nenek bersyukur, memuji Tuhan, dan tak lupa menolong orang
Begitu pula sebaiknya kita, tidak sombong pelit, maupun lupa sesama ketika berkelimpahan.
* Sikap Serakah dapat mencelakai diri sendiri..

Bagaimana, Setuju?
Monggo..

Advertisement

6 thoughts on “Dongeng seekor ikan.

  1. kadang2 yang kuasa ga memberi kita yang namanya rejeki soalnya dia mungkin tahu, kalau kita diberi banyak sekaligus bisa jadi sombong ga ketulungan. Mungkin sang nenek diberi emas banyak itu soalnya YME tahu dia gak akan jadi sombong kalau kaya hehe

  2. Bonsai Biker says:

    manggut manggut menyimak

Please leave a comment, thanks..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s