Penciptaan Hawa

Al Sadi menjelaskan, dari Abu Shalih dan Abu Malik, dari Ibnu Abbas, dari Murah, dari Ibnu Mas’ud dari beberapa orang sahabat, dimana mereka pernah mengatakan,
“Allah Ta’ala mengeluarkan Iblis dari surga dan menempatkan Adam ke dalamnya. di dalamnya Adam berjalan sendirian tanpa istri yang menemaninya. Lalu ia tertidur sejenak hingga akhirnya terbangun, tiba-tiba di samping kepalnya sudah ada seorang wanita yang duduk yang telah diciptakan Allah Ta’ala dari tulang rusuknya.
Kemudian Adam bertanya, ‘Apa jenis kelaminmu?
Aku ini seorang wanita,’ jawabnya.
Lebih lanjut Adam bertanya, ‘Dan untuk apa engkau diciptakan?
Ia menjawab, Supaya engkau merasa tenang denganku.’
Para malaikat pun bertanya kepadanya, ‘Siapa nama wanita itu, hai Adam?
‘Hawa,’ jawabnya.
Mengapa bernama Hawa?’ Tanya para malaikat.
Adam menjawab, ‘Karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup.’”

Kisah ini sejalan dengan firman Allah :
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya. Dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain. Dan peliharalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (An Nisa’ 1)

Pelajaran :
Sesuatu yang penting disini adalah tujuan Hawa diciptakan, yaitu Supaya Adam alaihissalam tenang (sukun).
Jadi salah satu tujuan utama kita mencari pasangan hidup adalah agar bisa merasa tenang dengannya, dengan berbagi beban, menjalani hidup bersama, beribadah bersama, dsb.. tentunya disamping tujuan2 yang lain juga.
Inilah mengapa doa dalam perkawinan itu salah satunya adalah “semoga menjadi keluarga yang sakinah (tenang/tentram) “.
Seperti  disebutkan oleh Allah dalam kalimat  “litaskunu ilaiha” (tenteram kepadanya):

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.. ” ArRum 21.

Demikian, monggo..

Belajar pasrah dari Ibrahim alaihissalam.

Tidak ada yang membenci agama Ibrahim kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Kami telah memilihnya di dunia. Dan di akherat ia termasuk orang yang soleh. Ketika Tuhan berfirman kepadanya, “Berserah dirilah!” Ibrahim menjawab, “Aku telah berserah diri kepada Tuhan semesta Alam.” (QS. Al Baqarah, 2: 130-131)
Sesungguhnya agama disisi Allah adalah Islam (berserah diri kepadaNya)…(Al Imran : 19)
Ikutilah agama orang tuamu, Ibrahim. Dia telah menamaimu sebagai muslim (yang berserah diri), dahulu dan dalam Al Quran ini… (Al Hajj : 78)

Dan masih banyak lagi ayat – ayat yang menyebutkan sikap berserah diri kepada Allah. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa berserah diri adalah sebuah keadaan atau sikap yang agung. Sikap berserah diri meliputi aspek lahir dan batin. Lahirnya taat kepada Allah, dan batinnya tidak menentangNya.

Saya ingat akan sosok rosul dan simbol penyerahan diri pada seorang Nabi Ibrahim. Sikap pasrah sempurna seorang hamba yang tidak menentang seluruh keputusan Allah dan berserah diri pada ketentuannya. Menarik untuk mengangkat tema berserah diri  Nabi Ibrahim.

Bukankah ketika Ibrahim a.s. diperintah oleh Allah untuk berserah diri, ia berkata, “Aku telah berserah diri kepada Tuhan semesta alam.”

Ingatkah kita ketika ia di ikat di ketapel besar (manjanik) untuk dipanggang hidup2, para malaikat berdoa untuknya, ” Tuhan, kekasih-Mu tengah mendapat ujian seperti yang Engkau ketahui.”
Tuhan menjawab, “Jibril, temuilah Ibrahim. Jika ia meminta tolong kepadamu, tolonglah! Namun jika tidak, biarkanlah. Aku bersamanya.”
Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, “Ada yang kau butuhkan?”
Ibrahim menjawab, “Kepadamu, aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya membutuhkan kepada Allah.”
Dan Jibril berkata, “Maka mintalah kepada-Nya!”.
Dan berkata Ibrahim, “Cukuplah bagiku bahwa Dia mengetahui keadaanku.”

Selengkapnya

Habil dan Qabil

Allah S.W.T berfirman:

Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan korban, maka yang diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil), sedangkan yang dari Qabil tidak diterima. Ia (Qabil) berkata, ‘Aku pasti akan membunuhnya.’ Habil berkata, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa membunuhku dan dosamu sendiri. Maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim. ‘Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya ia menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, ‘Aduhai, celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini ?’ Karena itu jadilah ia seorang diantara orang-orang yang menyesal.” (Al Maidah 27-31)

Al Sadi menyebutkan, dari Abu Malik, dan Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud, dari beberapa orang sahabat Rasulullah S.A.W, bahwa Adam menikahkan setiap anak laki-lakinya dengan anak perempuannya kembaran anak laki-lakinya yang lain. Dan Habil hendak menikahi saudara perempuannya yang menjadi kembaran Qabil yang berusia lebih tua daripada Habil.

Selengkapnya

Anekdot motor 2.

Motor adalah angkutan yang serbaguna. Bermacam barang bisa dibawa dengan motor. Drum, kursi, pipa paralon, kayu, karangan bunga, bahkan pohon palem besar.. hehe.
Tetapi kalau dipaksakan, tentunya naik motor jadi tidak nyaman dan, terkadang mengganggu pengguna jalan lainnya..
Nggak percaya? coba sampean cek sendiri..

Drum ini mungkin gak berat, tapi apa nggak pengap didalam sana ? 🙂

Pipa yang berpotensi membuat ambeien kumat..
Selengkapnya

Cerita Nenek Tua.

Alkisah, pada zaman dulu di daratan Tiongkok, diceritakan oleh seorang sastrawan besar bernama Li Bai, yang berkisah tentang pengalaman dirinya di masa kecil. Pengalaman itu mampu merubah mindset atau pola pikirnya. Inilah kisahnya…Seorang bocah kecil tinggal di sebuah desa dengan kenakalan dan kebandelannya. Anak ini sering tidak mengikuti pelajaran membaca dan menulis yang seharusnya dia ikuti. Dia lebih menyukai bermain-main, berkelana menyusuri jalanan desa dan tepian sungai.

Suatu hari di tepian sungai, dia melihat seorang nenek sedang melakukan kegiatan yang berulang-ulang dilakukan. Sampai beberapa hari dia melintas di sana, si nenek tetap melakukan kegiatan yang sama. Hal itu menimbulkan keingintahuan si anak. Maka terjadilah dialog sebagai berikut:
“Nek beberapa hari ini saya melihat nenek melakukan hal yang sama terus menerus! Sebenarnya nenek sedang melakukan apa sih?”
Sambil tersenyum, nenek pun menjawab, “Nenek sedang menggosok besi batangan ini, Nak.”

Selengkapnya

Ketawakkalan Rasulullah.

Dari Jabir bin Abdullah dia berkata; Kami berperang bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu peperangan di daerah Nejed.
Kami jumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sebuah lembah yang disanabanyak tumbuh pohon-pohon besar dan berduri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti di bawah sebatang pohon, lalu beliau gantungkan pedangnya pada sebatang dahan pohon.
Jabir berkata; ‘Pada saat itu, para sahabat pergi berpecar di lembah itu. Masing-masing mencari tempat bernaung di bawah pohon.
Kemudian Rasulullah mengatakan: “Tadi ketika aku sedang tidur di bawah pohon, ada seseorang yang mendatangiku seraya mengambil pedangku. Tak lama kemudian aku pun terjaga dari tidur, sedangkan ia telah berdiri di atas kepalaku. Aku telah mengetahui bahwasannya ia telah siap dengan pedang di tangannya. Dia berkata; ‘Hai Muhammad, siapakah yang dapat menghalangiku untuk membunuhmu? Dengan tegas aku menjawab; ‘Allah.’ Dia bertanya lagi; ‘Siapakah yang dapat menghalangiku untuk membunuhmu? Aku menjawab; ‘Allah.’ Akhirnya orang tersebut menyarungkan kembali pedangku itu dan inilah orangnya sedang duduk.
Ternyata Rasulullah tidak menyerang sama sekali untuk membalasnya. (Shahih Muslim No 843-13)

Tawakkalnya semut

.. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tenteranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) sehingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, “hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” Maka Nabi Sulaiman tersenyum dengan tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Katanya,“Ya Rabbi, limpahkan kepadaku kurnia untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku; kurniakan padaku hingga bisa mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang soleh.”(An-Naml: 16-19)

Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman as bertanya kepada seekor semut,
Wahai semut! Berapa banyak engkau peroleh rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun?”
Sebesar biji gandum,” jawabnya.

Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si semut hanya memakan sebagian biji gandum itu.
Selengkapnya

Tawakal anak kecil

Seorang soleh bernama Ahmad Bin Harb mempunyai seorang anak lelaki. Sejak kecil anak itu telah diajarkan mengenal Allah dan yakin bahawa Dia berkuasa atas segala sesuatu. Allah yang menghidupkan, yang mematikan dan yang memberi rezeki kepada manusia.
“Nak, jika engkau menginginkan sesuatu, engkau mesti meminta dan berdoa kepada Allah tidak boleh kepada yang lain,” kata Ahmad kepada anaknya yang masih kecil itu.
“Caranya bagaimana ayah?” tanya anaknya.
“Engkau pergi ke tingkap, angkat kedua-dua tanganmu ke langit dan ucapkan: “Ya Allah! Aku ingin ini…. maka berikanlah aku rezeki dari sisi-Mu.”

Selengkapnya

Tawakkal kepada Allah

Allah berfirman dalam surat al-Mâidah ayat 3 23 :

وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوْا اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. (المائدة: ۳)

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”.

Secara esensial (hakiki) tawakal merupakan kondisi ruhani yang lahir dari tauhid, yang pengaruhnya terwujud dalam amal nyata.
Para sahabat dan tabiin memberikan beberapa pengertian tentang tawakal, diantaranya:
– Tawakal adalah amal hati (Imam Ahmad)
– Tawakal artinya melepaskan diri bersama kehendak Allah (Sahl)
– Ridha terhadap Allah sebagai pelindungnya (Yahya bin Mu’adz)
– Melepaskan berbagai sesembahan dan memotong segala sebab, tidak bergantung kepada sebab (Dzun-Nun)
– Menghempaskan badan dalam ubuidyah dan mengaitkan hati dengan rububiyah dan ketenangan hati terhadap kecukupan yang diberikan kepadanya. Jika diberi ia bersyukur dan jika ditahan ia bersabar (Abu Turab An-Nakhsyaby)

Selengkapnya