Umar Ibnu Khattab masuk islam.

Kisah yang membuat mata saya berkaca-kaca..

Umar gelisah tak bisa tidur malam itu. Ia kemudian keluar rumah. Purnama bersinar terang menerangi jalan-jalan kota Mekah yang sepi. Sejenak, Umar melihat seorang berjalan perlahan mendekati Ka'bah. Langkahnya begitu teratur, agak perlahan sebab jalan memang sedikit terjal. Orangnya berperawakan sedang, tidak tinggi, juga tidak pendek. Namun, berkesan ada kekuatan mengelilinginya. Umar segera tersadar, orang itulah yang sangat dibencinya. Orang yang telah membawa banyak problema bagi masyarakat Mekah akibat ajakannya pada Agama baru. Orang yang telah menantang tetuhanan yang telah mereka sembah sejak beberapa abad. Bahkan dengan gamblang orang tsb menyebut itu sebagai tuhan-tuhan palsu. Dan lebih lagi, ia justru mengajak pada Tuhan yang Satu. Orang yang telah memecah belah bangsa Quraish, memisahkan antara anak dan orang tua, menimbulkan perang antar saudara, penyebab bercerainya suami dan istri. Umar naik pitam. Tapi mencoba menahan diri. Ia berfikir, mestinya ada perhitungan dengan Muhammad, paling tidak agar da'wahnya berjalan tersendat.

Pagi sebelumnya, Umar berjumpa Ummu Abdullah, sepupunya sendiri. Ia mendapatinya sedang dalam persiapan hijrah ke Abisinia. Umar sempat berucap
"Engkau juga akan pergi?"
"Ya!", sahut Ummu Abdulah. "Umar! Engkau telah menyulitkan kehidupan kami", sambung Ummu Abdullah. "Satu-satunya celah menurutmu, hanya karena kami mempercayai Allah."

Umar terdiam, sebab ia sendiri tak punya alasan tepat untuk membenci sepupunya itu. Perasaan sedih juga merasut dalam dadanya, meyaksikan beberapa anggota klannya sediri meninggalkan Mekah. Tak sadar, Umar berucap menimpali kata-kata Ummu Abdullah
"Mudah-mudahan Tuhan bersamamu"

Maka sejak itulah Ummu Abdullah punya keyakinan bahwa, mungkin suatu ketika Umar akan menjadi seorang muslim. Disampaikannya harapan itu pada suaminya, Amier. "Ah...tak mungkin!", kata Amier. "Seluruh keturunan Khattab boleh saja menjadi muslim, tapi dengan Umar...rasanya sangat jauh. Hatinya lebih keras dari karang." Bagi Umar sendiri, percakapannya dengan Ummu Abdullah meninggalkan kesan cukup dalam. Ia tak menemukan legitimasi atas penyiksaan yang telah dilakukannya pada orang-orang muslim. Sesungguhnya Umar merasa bersalah. Tapi gengsi dan rasa sombong masih melekat dalam dadanya, karena itulah ia gelisah, tak bisa tidur.

Sampai akhirnya malam itu, mendapatkan Muhammad menghampiri Ka'bah. Umar masih dengan gumannya sendiri, sembari mengawasi bayangan Nabi.
"Bukankah orang ini biang kerok dari semua masalah? Penyebab kegoncangan keluarga dan membuat banyak orang-orang seperti tersihir?" Dan kali ini, Ia justru berjalan dengan tenangnya menuju Ka'bah, seolah-olah tak punya rasa takut. Umar semakin jengkel. Ia berkata-kata sendiri.
"Umar! Bukankah engkau orang yang paling berani sekota Mekah? Juga tidakkah Engkau membenci Islam? Terlebih pada orang yang menjadi sumbernya? Yang sekarang justru dengan tenangnya mendekati Ka'bah. Karena itu, buatlah perhitungan Umar!"
Umar, mengendap mengikuti arah Nabi. Kata-kata Ummu Abdullah kembali mengiang di telinganya.

Begitu Umar melangkah memasuki Masjidil Haram, Nabi Muhammad SAW sudah berada di sana melaksanakan Shalat. Beliau menghadap ke Utara, arah Jerussalem. Sebenarnya Umar hingga saat itu belum pernah mendengar ayat-ayat Quran, yang menurut cerita orang-orang mengandung kekuatan. Hanya buruk sangka yang menyelemutinya selama ini. Tapi, rasa ingin tahu muncul juga dalam dadanya. Ia menarik tirai pada Ka'bah dan bersebunyi disitu.
"Kata-kata apa gerangan yang akan keluar dari mulutmu Muhammad? Bicaralah!" Gumamnya disertai gercikan gigi pertanda marah. Tiba-tiba, seperti jawaban, suara Nabi membedah keheningan malam. Beliau membaca Surah Al Haqqah. "Hari kepastian!". Apakah hari kepastian itu? Dan, apa yang bisa menyadarkan kamu tentang hari kepastian? (QS Al-Haqqah).

Umar maju selangkah, konsentrasi penuh, tak ingin tertinggal sepenggal kata pun. Tertegung oleh keindahan dan keagungan Alquran yang dibaca oleh Nabi. "Sungguh, kalimat-kalimat itu menakjubkan, ia mengandung kekuatan", sahutnya. Umar mencoba mengerti maknanya, lalu terbetik dalam pikirannya "Kedengarannya seperti syair, yah... syair yang punya kekuatan. Syair berkekuatan inilah yang telah menyesatkan orang-orang Quraish".

Umar yang terbawa oleh pikirannya sendiri kembali tersentak oleh suara Nabi yang melantunkan:
"Sesungguhnya Alquran itu adalah benar-benar wahyu yang diturunkan Allah kepada RasulNya yang mulia. Alquran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya."
Umar terpana. "Apakah orang ini mampu membaca pikiran orang lain? Oh... jika demikian, maka ia adalah tukang tenung. Tukang tenunglah yang bisa tahu kata hati orang lain".

Kembali suara Nabi menghentak Umar. "Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ini adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Sekiranya Dia, Muhammad, mengadakan/menambah perkataan atas nama Kami. Niscaya benar-benar Kami beri tindakan sekeras-kerasnya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya". (QS 69:42-46).

Tak pernah sebelumnya Umar dihadapkan pada kondisi yang demikian krusial. Semua prasangka dan argumennya tak berdaya. "Jika Muhammad berbohong, jika Ia tak menerima wahyu dari Tuhan, maka Tuhannya pasti telah membinasahkannya", pikir Umar. Umar tak tahan lagi, Ia merasa kalah. Lemas, lalu membalikkan badannya parlahan kemudian pulang menyusuri padang pasir ke rumahnya.

Jalan-jalan kota Mekah yang semakin sepi menyertai perang yang sedang berkecamuk dalam benak dan hati Umar. Ia merasa kesal sekaligus memandang bahwa ketakberdayaannya menghadapi kekuatan Kalimat-kalimat Quran sebagai kelemahan baginya. Karenanya, Umar kembali marah. Akan tetapi Umar juga tahu dan sadar bahwa Muhammad adalah orang yang ikhlas, orang yang punya integritas, yang ajarannya jauh melampaui ajaran yang Umar pernah dengar sebelumnya. Umar memasuki rumahnya dengan pikiran yang berkecamuk.

Kaum minoritas muslim yang sebagian besar penganut baru sering dianiaya. Mereka sulit melaksanakan ajaran agama secara terbuka, juga tak boleh shalat di Ka'bah. Sementara itu, markas Besar Rasul, dimana ia sering memberi pengajaran pada shahabatnya, berlokasi di sekitar bukit Shafa, di rumah Arqam. Orang-orang muslim mengunjungi tempat ini, belajar Alquran dan bahkan kadang-kadang nginap beberapa hari. Selain ditempa di Rumah Arqam oleh Rasul, orang-orang muslim saling mengujungi antar sesama. Rumah Rasul, tentu saja juga menjadi bagian yang sangat penting. Penganut senior mengajari penganut yang baru.

Suatu pagi di kediaman Rasul, suasana begitu mengharukan. Kabar sampai ke pihak mereka bahwa Abu Jahl, musuh besar islam yang lain, bersama Umar, sedang merencanakan rangkaian penganiayaan terhadap penganut Islam. Karena itu, sebagian yang hadir di rumah Rasul ketika itu hanya ada dua pilihan, yakni bersembunyi atau disiksa. Salah seorang di antara mereka berucap,
"Masalahnya tidak cukup jumlah kita untuk mengadakan perlawanan, lihatlah! Lagipula, beberapa di antara kita adalah bekas budak, dan sebagaian besar masih terlalu muda. Apa yang kita bisa lakukan melawan kaum Quraish yang besar? Sebenarnya kita butuh orang-orang kuat di antara kita."

Yang lain senyum sedih, tetapi setuju, mendengar ungkapan itu. Nabi yang berada di tengah mereka, perlahan menegadahkan tangan sambil berdoa, "Ya Allah, Tunjukilah kami dan Kuatkanlah Islam. Beri petunjuk Abu Jahl Ibnu Hisyam atau Umar Ibnu Khattab. Ya Allah, siapa pun dari keduanya yang Engkau cintai, tunjuki ia ke Islam. Semua yang hadir mendengar doa itu, dan menirukannya dalam hati. Seketika Rasul selesai berdoa, serentak terdengar ucapan, Aamin.

Sementara itu, Umar kelihatan semakin galak. Apa yang disaksikannya di Ka'bah malam itu senantiasa lengket dalam benaknya, menghantuinya, hingga kadang-kadang menjagakannya dari tidur. Suatu malam, ia tak tahan lagi, puncak amarah menembus ubun-ubunnya. Ia memutuskan untuk segera saja menghabisi jiwa orang yang dianggapnya biang kerok. Segera ia mengambil pedang, menghunusnya, lalu keluar rumah. Sisa purnama masih ada. Orang-orang sepanjang jalan sulit untuk tidak mengenali Singa padang Pasir yang lagi geram ini.

Tak lama kemudian, ia berpapasan dengan sepupunya Nu'aim ibnu Abdullah Annahm. Mata Nuaim hampir silau oleh pedang Umar yang mengkilat terhunus. Nu'aim yang agak gugup mencoba tetap diam. Tapi kemudian bertanya dengan lembut,
"Hendak kemana Umar?"
Umar yang di puncak amarah, setengah berteriak,
"Kemana!?... ha!! masih tanya juga! kemana lagi kalau bukan untuk menghabisi orang yang selama ini menjadi biang kerok, orang yang telah menghina agama nenek moyang Quraish serta merendahkan Tuhan-tuhan kita."

Nuaim diam. "Orang itu tak akan menghina lagi", sambung Umar sembari menebaskan pedangnya ke udara. Orang-orang yang rumahnya di pinggiran jalan hanya kuasa mengintip dari balik jendela. Sementara Nuaim kendati gugup punya keberanian menimpali,
"Siapa yang mengajarimu bahwa Kamu dapat membunuh Muhammad dengan mudah? Apa Kamu pikir, kalo berhasil membunuhnya lalu kamu bisa bebas begitu saja? Apa Kamu tidak sadar akan jumlah darah balasan yang akan dimintakan oleh pihak Banu Hasyim terhadap banu kita, bani Abi?"

Keduanya, kelihatan sedang beradu argumen. "Aku tahu sekarang! Engkau juga sudah tersihir oleh Muhammad", balas Umar.
"Mendekatlah ke sini, akan kuobati engkau dengan pedang ini", lanjut Umar.
"Engkau tertipu", kata Nuaim menimpali. "Ternyata Engkau tak tahu bahwa saudaramu sendiri seorang muslim. Yah... Fatimah dan Suaminya, Said jauh lebih bijaksana dari pada Engkau. Mereka berdua tidak dungu untuk berpegang teguh pada ajaran jahilliyah begitu mereka mendengar kebenaran."

"Bohong!", bantah Umar. Ia kemudian merubah arah jalannya, menuju rumah saudaranya itu. "Jika demikian, maka merekalah yang harus mampus lebih dulu", ketusnya. Jarak ke rumah Fatimah cukup jauh, karena itu amarah Umar sempat mereda sesampai di depan pintu. Ia mendengar penghuni rumah sedang membacakan Ayat-ayat Quran. Sejenak Umar berhenti. Lalu diketuknya pintu agak keras. Seisi rumah, Fatimah, suaminya Said dan Habbab, pembimbing mereka, berhenti membaca Quran.
"Siapa di luar?", tanya Fatimah.
"Umar ibnu Khattab!"

Mendengar suara itu, Habbab gugup lalu menuju ke kamar, bersembunyi.
"Cepat, sembunyikan kitab itu", bisik Said. Fatimah kemudian memasukkannya ke dalam gaunnya. Umar kembali mengetuk dengan ketukan yang lebih keras. Said membuka pintu, dan tampak olehnya Umar dengan pedang terhunus.
"Kalian sedang apa? Kamu pikir saya tak mendengarnya?", gertak Umar.

"Tidak ada apa-apa", jawab Fatimah tenang. "Kami sedang ngobrol biasa. "Umar naik pitam, "Bohong! Pengecut!" katanya. "Saya tahu bahwa kamu ikut tersihir". Fatimah dan Said saling berpandangan. Lalu Said kemudian berujar, "Kini Umar telah tahu, tak ada yang patut disembunyikan. Tapi ketahuilah Umar, kebenaran itu bukan seperti yang Anda pahami".

Ucapan ini keterlaluan bagi Umar. Ia marah, dan mencoba menyerang Said. Umar terlalu kuat, Said terjatuh. Menyaksikan itu, Fatimah menghentak Umar, dengan sekuat tenaga mencoba membela Suaminya, sekaligus saudara Muslimya.

"Lepaskan Dia!" Merasa terhalangi, Umar menampar saudara perempuannya sendiri. Pipi Fatimah merah, tapi ia menantang Umar, "Hai musuh Allah!", katanya. "Engkau membenci kami hanya karena kami beriman?" "Benar", kata Umar. " Sekarang, lakukan apa saja yang kau mau", Suara Fatimah menyambar bagai petir. "Kami bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah. Engkau tak kuasa mengubah keyakinan kami. Apapun yang terjadi, kami tak akan pernah meninggalkan Islam. Umar terkesan mendengar keteguhan hati saudarinya itu, amarahnya seperti tersiram salju. Perlahan-lahan, Umar mereda.

Kemudian dengan suara perlahan, ia berkata, "Baiklah Saudariku! perlihatkanlah padaku apa yang sedang kalian baca! Sekiranya ia mengandung kebenaran, apa salahnya engkau memberi tahu aku."

Fatimah ragu, ia memandang suaminya. "Saya berjanji tak akan membuangnya", tambah Umar. "Akan Aku kembalikan", Umar meyakinkan. "Baiklah!", sahut Fatimah. "Tapi, basuh duluh wajahmu dengan air, Engkau tidak dalam kondisi membaca ayat suci".

Umar kemudian menuju mengambil air, Habbab keluar dari kamar berbisik,
"Bagaimana engkau percaya pada orang yang demikian keras dan kejam?" "Aku tahu karakter saudaraku", jawab Fatimah. Malah saya punya harapan besar bahwa Allah akan memberinya petunjuk. Habbab, meyaksikan Umar, kembali bersembunyi. Dengan doa dalam hati, Fatimah menyerahkan ayat Al-Quran itu pada saudaranya.

Umar membaca:
"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang zhahir dan Yang Bathin; Dan Dia maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah lah dikembalikan segala urusan. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha mengetahui Segala isi hati. (QS Al-Hadiid 57:1-6)

Ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Umar membaca "Bismillahirrahmanirrahim". Kemudian dia berkomentar: “Ini adalah nama-nama yang indah nan suci” Kemudian beliau terus membaca :  طه Hingga ayat : إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني وأقم الصلاة لذكري

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha : 14)

Umar tertegun akan keagungan ayat-ayat suci itu. Segera ia insyaf akan kekeliruannya selama ini. Mata hatinya kini terbuka, tak mungkin ada Tuhan lain selain Allah. Muhammad kini diakuinya sebagai benar-benar Nabi. Kata yang pertama terucap baginya setelah membaca,
"Cepat! Dimana Muhammad? Beri tahulah aku!" Ipar dan saudarinya berdiri. Habbab yang keluar dari persembunyian berbisik pada Said, "Apakah ini menunjukan bahwa Doa Nabi terkabul?" Said diam saja, sembari memberi kode pada Fatimah, untuk memberi tahu di mana Nabi.

Pedang yang terhunus sejak awal disarungkan kembali oleh Umar. Ia kemudian menuju Rumah Arqam. Di dalam, Nabi dan para shahabat sedang duduk, Hamzah dan Talhah berjaga di depan pintu. Umar mengetuk. "Siapa di luar?", tanya Talhah. Umar memberi respons, dan seketika suasana terdiam. Melihat gelagat para shahabat seolah ketakutan, Hamzah berucap, "Kenapa takut? Mungkin ia datang dengan maksud baik, untuk memeluk islam. Kalau tidak, tak soal, kita dengan mudah bisa meringkusnya."

Ia kemudian memberi isyarat pada Talhah untuk membuka pintu. Umar melangkah masuk. Hamzah dan Talhah memegang tangan Umar dan membawanya menuju Nabi. Tapi, Nabi meminta mereka berdua untuk membiarkan Umar. Umar tak melangkah lagi. Nabi mendekat, Beliau membisiki Umar meletakkan pedang. Umar tak kuasa menolak, ia pasrah, bahkan berkesan tak bergerak. Nabi lalu angkat bicara, "Umar! Tinggalkanlah perbuatan maksiat, sebelum murka Allah menimpamu. Umar, terimalah Islam. Ya Allah, berilah dia petunjuk."

Umar hanya bisa menjawab, "Apa yang seharusnya saya ucapkan?" Hamzah pun bicara, "Persaksikan bahwa Tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah". Umar menoleh ke arah Hamzah, lalu ke arah Nabi, kemudian Umar berucap,
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Engkau Muhammad adalah Rasul Allah".

Mendengar deklarasi itu, para shahabat serentak berucap, "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar". Belum semenit memeluk Islam, Umar menambah kekuatan pada barisan kaum muslimin. Dukungannya terhadap Islam begitu antusias, melebihi antusiasnya ketika sebagai musuh. "Ya Rasulullah, kita harus memperjuangkan kebenaran ini sekarang juga?" Ya, tentu saja, jawab Nabi SAW. Kalau begitu, mari kita keluar memproklamirkan keyakinan kita ini secara terbuka, Ayo! Kita shalat di depan Ka'bah".

Rasulullah mengiyakan. Para shahabat kemudian berbaris dua menuju Ka'bah yang satu dipimpin oleh Umar, lainnya lagi oleh Hamzah, keduanya adalah pemimpin Makkah yang sangat disegani. Antusiasme keislaman Umar dibuktikan dengan mendatangi beberapa pemimpin utama kaum Quraish, termasuk paman Nabi sendiri, Abu Jahal. Bukan itu saja, Ia bahkan mendatangi kerumunan kaum kafir seorang diri memproklamirkan keislamanya. Orang yang berani mempersalahkannya dihadapinya semua. Tapi, memang inilah yang diharapkan Umar. Keislaman Umar mengubah peta kekuatan Kota Mekah. Kaum kafir quraish tak semena-mena lagi melakukan penganiayaan terhadap kaum minoritas muslim.

Disadur dari: The Persecuter Comes Home, oleh: Tasrief S. Aliah

6 thoughts on “Umar Ibnu Khattab masuk islam.

  1. yisha says:

    wah, makasih post mu…

  2. vixy182 says:

    semakin yakin dg islam…😀

Please leave a comment, thanks..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s