Kisah Ibrahim dan 4 burung

Nabi Ibrahim alaihis salam yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin esekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.

Berserulah ia kepada Allah: ” Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati.”
Allah menjawab seruannya dengan berfirman: “Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku?”
Nabi Ibrahim alaihis salam menjawab: ” Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu.”

Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim alaihis salam  lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.

Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.

Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan enpat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim alaihis salam kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah YAng Maha Berkuasa dpt menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada.

Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim alaihis salam untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dpt menghalangi atau menentangnya dan hanya kata “Kun” yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki ” Fayakun”.

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” (Al Baqarah 260)

Catatan kecil :

Kalau Allah mampu mencipta sesuatu dari tidak ada menjadi ada, tentu lebih mudah bagi-Nya untuk menghidupkan makhluk yang sudah mati. Apakah Nabi Ibrahim alaihis salam tidak percaya? Subhanallah.. tentu beliau yakin, hanya saja beliau ingin memantabkan hatinya..

Hati kita selalu percaya, namun terkadang keyakinan itu kurang mantap kalau belum mengalami sendiri.
Saya sangat terkesan dengan jawaban Ibrahim alaihis salam dan selalu ingat : ” Saya yakin ya Allah, tetapi hal ini agar hatiku semakin mantap.. “. Kalimat yang sangat inspiratif buat saya..

Demikian.. semoga berguna.. (gianluigimario)

Advertisements

8 thoughts on “Kisah Ibrahim dan 4 burung

  1. sinbe says:

    Kadang ane jg ngrasa ky yg nabi Ibrahim rasain, gini bro bukane smua yg trjadi didunia ne kn uda diatur ma Alloh, bhkan tiap daun yg jth didunia jg uda diatur ma Alloh. Tp apakah ga diskriminasi ketika seorang anak dilahirkan dlam klwrga kafir dah gto miskin pula eh mati msh kafir kn jelas msuk nraka tuh. Coba byangin ank yg lhr dikeluarga muslim, alangkah beruntungnya dia beda jauh nasibnya ma yg lair dkluarga miskin, kafir, masuk nraka pula. Apa itu keadilan tuhan disini hanya model untung2an? 🙄

    • pertama.. kita bersyukur dilahirkan dalam keluarga islam.. Alhamdulillah.
      kedua.. kita yakin Bayi itu dilahirkan seperti kertas putih menurut sebuah hadis, maka orang tua yg akan menulisnya.. wallahu’alam.
      ketiga.. pada dasarnya ketika masih dalam rahim, roh seorang telah bersaksi atas keesaan Allah.

      Maka pendapat saya, telah datang kebenaran/ agama islam maka kita kenalkan dan dakwahkan, perkara diterima atau tidak terserah dia. Kalau soal keluarga, ada beberapa yg memeberi kebebasan, dan tak sedikit yg anaknya menjadi muallaf.. bila keluarganya keras? ini malah ujian buatnya.. kalau ia mampu, maka pahalanya lebih besar karena perjuangannya lebih berat..
      jgn lebih dulu sesali nasib tapi berupaya yg bisa untuk tyerima islam.

      Apapun itu, buat saya pantang mempertanyakan sucinya kebijakan tuhan..subhanallah.. Mahasuci Dia dari semua kekurangan,,

      demikian pebdapat saya

    • Ayung Abiey says:

      Bicara tentang keadilan tuhan jangan sampai membuat kita berkata Allah tidak adil. begini setiap orang tua mendidik anak-anaknya sesuai dengan isme atau ajaran yang dianggapnya benar, dan disinilah sebenarnya masalahnya. artinya semua hasil panen ditentukan pola tanam petaninya. marilah kita simak perumpamaan Allah dalm surat Ibrahim 24, 25, dan 26 maka kita akan menemukan jawaban atas apa yang berkecimpung dalam pikiran anda ”
      24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik[786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
      25. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
      26. Dan perumpamaan kalimat yang buruk[787] seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.
      maka marilah kita tengok
      1. apakah kita telah memasukkan ke dada kita kalimat Tauhid dengan benara sehingga darinya kesuburan jiwa bermanfaat bagi apa saja yang kita miliki, keluarga, tetangga, masyarakat sekitar, bagi orang beriman pantang membuat kerusakan apalagi kerusakan generasi
      2. apakah kekafiran akan mendatangkan kebaikan, tentu tidak bukan, karena hanya pohon yang baik sajalah yang menghasilkan kemanfaatan dari buah, kayu, akar dan dedaunan yang menghembuskan oksigen
      3. jika anak-anak yang terlahir dari kekafiran berusaha mendapatkan hidayah maka dengan sendirinya dia telah memasukkan pupuk keimanan yangtidak didapati dari orang tuanya, dari orang tuanya dia mendapatkan pelajaran yang harus ditinggalkan dan dia menjemput kedilan Tuhan dengan menanam biji tauhid untuk mendapatkan panenan buah yang nikmat.

      perlu belajar lebih banyak bagi yang punya blog semoga rahmad Allah tercurah dalam setiap tulisanmu.

  2. Dr.Feelgood says:

    thanks mas gian, banyak hikmat positif yg bisa diambil dari hal diatas. manggut manggut lagi heheh :mrgreen:

  3. sang says:

    klo udah cerita nabi2 dan rosul gini udah gak perlu di komentari, hanya bisa manggut2 aja.
    klo hari minggu artikele akeh pool, mengisi hari libur dengan lebih berarti

Please leave a comment, thanks..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s