Suami yang pura-pura buta selama 20 tahun..

Dikisahkan seorang pria yang menikahi seorang gadis. Sebelum menikmati malam pertamanya, laki-laki itu melihat (bekas) penyakit cacar di sebagian tubuh isterinya. Dia terkejut dan spontan mengatakan, ” Subhanallah, mataku sakit! Aku menjadi buta.” Isterinya terkejut, akan tetapi tidak berapa lama kemudian dia kembali tenang karena suaminya masih bersikap baik dan setia.

Dan waktu pun berjalan. Sepasang suami istri itu menjalani hidup selama 20 tahun, selama itu pula dia tidak pernah mengalami perlakuan buruk dari suaminya sampai dia meninggal.

Semenjak ditinggal mati isterinya, laki-laki itu kembali membuka matanya.
Bagaimana mungkin anda bisa (sembuh) demikian?” tanya tetangganya yang heran matanya tidak buta lagi.
Aku sebenarnya tidak buta,” jelas laki-laki itu,” aku hanya pura-pura buta supaya isteriku tidak sedih karena beban mental disebabkan penyakit cacarnya.”

Engkau adalah seorang ksatria sejati,” timpal seseorang.

Hikmah kisah :

Cerita singkat ini mengajarkan kita untuk berjiwa besar menerima orang lain, terutama pasangan. Sepatutnya kita tidak mengungkit kekurangan orang, apalagi menjatuhkannya dihadapan orang lain.. Bahkan kalau perlu menutup mata (pura-pura) tidak tahu akan kelemahan itu, agar kedamaian tercipta serta dia tidak rendah diri..

Semoga bermanfaat..

Sifat Pemaaf dan pengertian di jalan, alangkah indahnya….

Beberapa hari yang lalu Gianluigi Mario sempat membaca satu kolom dari koran lokal Jawa pos, lupa tanggalnya, namun ingat betul alur cerita karena isinya cukup berkesan dan bagus..
Kisahnya melibatkan tiga pelaku, yakni anak-anak pejalan kaki, seorang pengendara mobil, dan seorang biker.

Singkatnya pada suatu hari si Sopir mobil sedang melewati jalan raya, yang kemudian dikejutkan dengan anak-anak menyebrang jalan didepannya secara tiba-tiba. Reflek sang driver adalah mengerem mendadak demi menghindari tabrakan maut penyebrang didepan mobilnya. Akhirnya si roda empat pun berhasil dihentikan tepat pada waktunya.

Tak dinyana, dari belakang ada suara seorang pengendara motor yang terjatuh akibat mobil berhenti mendadak.. Sopir bermaksud menolong dan melihat keadaan biker yang jatuh itu namun dia sudah nggak kelihatan. Sejurus kemudian, biker tersebut sudah ada didepan kaca mobilnya dan melambaikan tangan sambil senyum dan berlalu.. Si sopir pun berterimakasih atas jiwa besar dan pengertian biker yang ada didepannya itu..

Yang dapat ditarik dari kisah singkat ini adalah, alangkah indah jika kita saling pengertian dan menghormati serta memaafkan orang lain, meski kita kadang terzalimi. Membalas atau emosional mungkin adalah tindakan yang menjadi hak kita, namun akan menjadi nilai lebih bila kita memberi maaf.. dan kedamaian pun tercipta..

Semoga bermanfaat..

Malu untuk takut kepada selain Allah.. *sebuah renungan

Sekelompok ulama menuturkan suatu cerita :
Di suatu malam kami pernah melakukan perjalanan jauh dan melewati beberapa tempat yang menjadi sarang binatang buas. Tiba-tiba di tempat itu ditemukan seorang lelaki yang sedang tidur nyenyak, sementara kudanya dibiarkan merumput disamping kepalanya.

Kami mencoba menggerakkan tubuhnya dan akhirnya dia terbangun.
Tidakkah kamu takut tidur di tempat yang sangat berbahaya? Ini adalah tempat yang jadi sarang binatang buas, ” kami mencoba mengngatkannya.
Namun lelaki itu tidak menampakkan ketakutan sama sekali di wajahnya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata,
Saya malu kepada Allah untuk takut pada selainNya.

Dia meletakkan kepalanya lalu tidur kembali..

Mutiara kisah :
Keyakinan untuk selalu mendapat pertolongan Allah tentu merupakan maqam yang sangat tinggi, namun kalau kita belum mampu mencapainya paling tidak kita bisa belajar untuk “malu kepada Allah”..
Kalau Allah adalah Dzat yang menguasai seluruh langit dan bumi, mengapa kita takut pada ciptaanNya, malah tidak merasa takut kepada Nya?

Kita belajar untuk “malu jika takut kepada selain Allah..”

Semoga bermanfaat..

Akhlaq yang terpuji adalah kemampuan memaafkan karena Allah…

Uwais Al-Qarni, setiap kali anak-anak melihatnya, mereka melemparinya dengan batu.
Anak-anak,” sapanya dengan lembut, “jika kalian memang harus melempari aku dengan batu-batu itu, saya mohon lemparilah dengan batu-batu yang kecil, supaya lutut saya tidak pecah sehingga terhalang untuk shalat.

Dikisahkan bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu pernah memanggil seorang budak dan dia tidak menyahutinya. Dia mengulanginya lagi sampai tiga kali dan jawaban yang diperoleh sama. Kahalifah melangkah mendekat dan melihatnya sedang enak-enak berbaring.
Apakah engkau tidak mendengar, hai anak muda?”
Mendengar,” jawabnya enteng.
Apa yang membuatmu tidak menyahut?”
Saya merasa aman dari siksaanmu. Karena itu, saya bermalas-malasan.”
Pergi,  engkau bebas karena Allah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
Sesungguhnya  kamu tidak akan bisa memuaskan manusia dengan hartamu. puaskan mereka dengan kecerahan wajah dan kebagusan akhlaq.”   (HR Bazzar, Al-Hakim, Baihaqi)

Abu Hafsh pernah ditanya mengenai akhlaq, lalu dijawab, “Akhlaq adalah apa yang dipilihkan Allah untuk Nabi-Nya sebagaimana yang termaktub dalam firmanNya :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” QS Al  A’raf :199

Catatan kecil :

Yang ditekankan dalam akhlaq ini adalah kemampuan seseorang untuk tetap mengingat Allah dan memberi maaf karena-Nya disaat ia dalam keadaan marah. Ini lah salah satu akhlaq yang paling sulit, namun inilah keutamaan yang disebut Allah dalam firmanNya dan diajarkan oleh Rasulullah dalam sunnahnya.

Di kala marah dan kita mampu melampiaskan namun kita memilih memberi maaf karena Allah, sungguh termasuk Akhlaq yang sangat terpuji..
Semoga bermanfaat..
(gianluigimario)

Lima kewajiban muslim terhadap muslim lainnya..

Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Hak kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya ada lima. Pertama menjawab salam. Kedua menjenguk yang sakit. Ketiga mengantar jenazah. Keempat memenuhi undangan. Kelima mendo’akan orang yang bersin.” (Muttafaq ‘Alaih)

Catatan kecil :
1. Menjawab salam.
Salam adalah doa seorang muslim kepada saudaranya, maka dari itu kudu dibalas pula dengan mendoakan pemberi salam. Kalau mengucap salam adalah sunnah, maka menjawabnya adalah wajib.
Dalam quran Allah berfirman untuk mewajibkan kita membalas salam dengan dua cara :
– Salam yang lebih baik (bi ahsana minha), atau
– Salam yang sepadan ( aw rudduha)

2. Menjenguk yang sakit.
Islam mensyariatkan pemeluknya untuk menjenguk saudaranya ketika sakit, diharapkan dengan demikian secara mental si sakit akan lebih kuat, dan barangkali dengan perantara doanya akan jadi kesembuhan bagi penyakit yang diderita.
Ada sebuah hadis bahwa  barangsiapa menjenguk saudaranya yang sakit, ia seperti ‘duduk  ditaman surga’..

3. Mengantar jenazah.
Ini merupakan penghormatan terakhir kepada saudaranya. Syariat islam sangat menganjurkan untuk mengantar jenazah, hingga Rasulullah mengabarkan bahwa pahala untuk orang yang mengantar jenazah sangat besar dilukiskan beliau satu Qirat atau ‘seperti dua gunung yang besar’.

4. Memenuhi undangan.
Apabila mendapat undangan, hendaknya setiap muslim menghadirinya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selalu mendatangi undangan, baik dari si miskin maupun si kaya. Beliau tak  pernah mengecewakan pengundangnya..

5. Mendoakan bersin.
Disunnahkan untuk orang yang bersin mengucap hamdalah (‘Alhamdulillah’) sebagai ucapan syukur atas karunia Allah kepadanya. Muslim yang mendengarkannya dianjurkan mengucap “yarhamukallah” (semoga Allah merahmatimu).. Orang yang bersin tadi disunahkan membalas dengan doa pula “yahdikumullah wa yuslih balakum“.
Bukankah sebuah keindahan luar biasa apabila umat islam saling mendoakan..

Semoga kita termasuk orang yang tak menyiakan kewajiban tersebut..dan semoga tulisan ini bermanfaat..amin.
(gianluigimario)

 

 

 

Kisah keyakinan yang kuat dari seorang tukang cukur..

Aku belajar keyakinan yang tulus dari seorang pemangkas rambut,” kenang Junaid, dan ia pun menceritakan kisah berikut ini.

Suatu kali saat aku ada di makkah, seorang pemangkas rambut tengah mencukur rambut seorang lelaki terhormat. Aku berkata kepadanya, “ Demi Allah, dapatkah engkau memangkas rambutku?
Ya, tentu saja,” katanya sambil mencucurkan airmata, ia tidak menyelesaikan pekerjaannya terhadap lelaki terhormat itu.

Berdirilah,” katanya. “  Saat nama Allah diucapkan, yang lain harus menunggu.

Ia pun mendudukkanku, mencium kepalaku, dan mencukur rambutku, Lalu ia memberikanku sebuah bungkusan kertas yang berisi sejumlah koin kecil.
Belanjakanlah uang ini untuk keperluanmu,” katanya.

Aku pun berketetapan hati untuk memberikan padanya hadiah pertama yang kuterima. Tidak berapa lama, aku dihadiahi sejumlah emas dari Bashrah. Aku membawa emas itu ke si tukang cukur.
Apa ini,” tanyanya.
Aku menjelaskan,” Aku telah berketatapan hati bahwa hadiah pertama yang aku terima, akan aku berikan kepadamu. Aku baru saja mendapatkan ini.

Saudaraku,” tukasnya, “tidakkah engkau malu pada Allah? engkau berkata kepadaku “Demi Allah pangkaslah rambutku.” Lalu engkau memberiku hadiah. Apakah engkau pernah mendengar ada seseorang melakukan sesuatu karena Allah, lalu meminta bayaran?

catatan singkat :
Cerita pendek ini menyiratkan mengenai keyakinan yang kuat dan tulus, sebuah level yang sangat sulit dicapai.
Si tukang cukur begitu tersentuh saat disebut nama Allah, hingga mengecilkan hal selain itu.
“  Saat nama Allah diucapkan, yang lain harus menunggu.
Ia bercucuran airmata, dan bersedekah kepada orang yang menyebut nama Allah tersebut. Junaid pun memiliki keyakinan yang tinggi akan rezeki Allah. Ia yakin Allah akan mengirimkan orang yang memberinya hadiah, untuk si tukang cukur yang tulus. Allah akan membalas kebaikan dengan berlipat lipat..

Tapi rupanya tukang cukur tak menerima hadiah dan bayaran, semata karena Allah. Ketulusannya bersumber dari Allah.. seperti kalimatnya :
“apa ada  seorang yang melakukan sesuatu karena Allah lalu minta bayaran?”..

Semoga berguna..
(gianluigimario)

Sosial, emosional, dan spiritual : tiga aspek orang bertaqwa..

Kembali kita perlu melakukan renungan kecil akan Ramadan yang telah meninggalkan kita, barusan aja.. Belasan atau puluhan ramadan sudah menyapa kita, dan jadilah kita ini hasil gemblengan bulan mulia itu.
Kita ingat kata Taqwa sebagai tujuan dari Puasa, (seperti disebut dalam AlBaqarah 184). Apa kita sudah betul-betul dapat digolongkan orang berTaqwa ?

Dalam Ali Imran 133-135, tersirat bahwa diantara ciri orang takwa, yang kalau disimpulkan mencakup tiga aspek :
1. Sosial.
Orang taqwa memiliki kecerdasan sosial yang tinggi. Berbuat baik kepada tetangga dan saudara, meskipun kepada yang beda agama.
Cerminan dari hal ini adalah orang taqwa selalu berinfak, baik dalam keadaan lapang atau sempit..

2. Emosional.
Orang bertaqwa mampu mengendalikan emosionalnya secara konsisten. Tidak membiarkan nafsunya menguasai dirinya, sehingga keluar dari keridaan Allah.
Cerminan dari sifat ini adalah dia mampu mengendalikan marah serta memaafkan manusia yang menzalimi dirinya, bahkan ketika ia mampu membalas,,

3. Spiritual.
Para Muttaqin memiliki ingatan yang baik kepada Tuhannya, mereka selalu ingat dan berzikir.. Karena hanya dengan dzikir lah hati menjadi tenteram..
Apalagi ketika mereka berbuat kesalahan, segera mereka ingat Allah dan meminta ampun seraya tidak mengulangi kesalahannya lagi..

Sosial, Emosional, dan Spiritual…
Sebulan penuh kita menggemblengnya, maka moment idul fitri saat ini tepat buat kita merenungi diri apakah kita memenuhi ketiga aspek tersebut?
Jawabnya ada pada hati kita masing-masing..
(gianluigimario)

Kisah sajadah Ma’ruf yang dicuri ..

Suatu kali Ma’ruf al Kharkhi ke tepi sungai Tigris untuk berwudhu, meninggalkan Alquran dan sajadahnya di masjid. Seorang wanita tua mencurinya. Ma’ruf pun mengejarnya.

Ketika menyusul wanita itu, ia berkata sambil menundukkan pandangan agar matanya tidak melihat wajah wanita itu, “ Apakah anda punya anak lelaki yang dapat membaca Alquran?
Tidak,” jawab wanita itu.
Kalau begitu kembalikan Alquranku. Anda boleh mengambil sajadahku,” ujar Ma’ruf.
Wanita itu takjub akan kemurahan hati Ma’ruf, lalu mengembalikan Alquran dan sajadahnya.

Tidak, ambillah sajadah ini,” kata Ma’ruf. “Sajadah ini telah halal bagimu.”
Wanita itu pun cepat-cepat berlalu dengan perasaan malu dan bingung.

Catatan kecil :
Ada sebuah hikmah yang dapat diambil dari cerita sajadah ini, yakni tentang ibadah dan muamalah.
Ma’ruf menghalalkan sajadah kepada wanita itu agar dapat dimanfaatkan untuk keperluannya namun jika Alquran itu memang tidak diperlukan si pencuri, maka ia memintanya agar masih bisa menggunakannya untuk ibadah..

Ibadah kepada Tuhan adalah kewajiban, namun menolong sesama yang memerlukan jangan sampai diacuhkan.. Semoga bermanfaat.
(gianluigimario)

Seharusnya, kita tak pernah cemas dengan rejeki dari Allah…

Suatu ketika kota Balkh dilanda wabah kelaparan yang dahsyat, sampai-sampai kanibalisme merebak. Di pasar, Syaqiq Al Balkhi melihat seorang budak muda tertawa dengan senangnya.
Hai budak saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bersuka ria! ” kata Syaqiq. “Tidakkah engkau tahu bahwa orang-orang tengah menderita kelaparan?

Mengapa aku harus khawatir? “ jawab budak itu.
Majikanku adalah pemilik tanah di seluruh desa dan memiliki banyak gandum. Ia tidak akan membiarkanku kelaparan.

Mendengar jawaban itu Syaqiq kehilangan pengendalian dirinya.
Ya Allah,” pekiknya. “ budak ini sangat gembira karena mempunyai majikan yang memiliki tumpukan gandum. Engkau adalah Raja Diraja, dan selalu memberikan kami makanan sehari-hari. Lalu mengapa kami harus cemas?

Setelah kejadian itu, Syaqiq banyak berkata, “ Aku adalah murid seorang budak.”

Catatan kecil :

Kita sadari maupun tidak, sesungguhnya Allah selalu mencurahkan rejeki kepada kita. Pernahkah Dia menyiakan kita?
Kalau seorang budak saja begitu tenang karena majikannya memiliki cadangan gandum yang pasti sangat terbatas, bagaimana mungkin kita khawatir rejeki kepada Allah sedangkan seluruh yang di langit dan di bumi adalah milikNya… Apalagi Dia Maha Pemurah, yang senantiasa memberi baik kepada yang berdosa maupun yang mengabdi tanpa batas..

Mencari rezeki adalah sebuah perintahNya, namun demikian jangan pernah mengkhawatirkan kalau Dia akan selalu mencukupi kita.. Mari tanamkan keyakinan ini didalam hati..
Semoga bermanfaat..
(gianluigimario)

Berpikir indah saat akan menolong orang lain..

Hidup itu tak lepas dari menolong dan ditolong, karena susah buat manusia untuk berdiri sendiri tanpaperlu bantuan..

Semua orang tentu ingin selalu mendapatpertolongan dari Allah. Sesungguhnya kita selalu memerlukanya dalam tiap keadaan. Setiap hembusan nafas pun kita membutuhkannya, baik dikala tidur ataupun terjaga.. selalu demikian…

Pada hakikatnya Allah selalu menolong, kita mintai atau tidak. Hanya saja dalam beberapa keadaan tertentu yang mendesak dan kesempitan, kita begitu tertekan hingga merasa lebih perlu pertolongan Allah dengan segera, kita bermohon dan merintih kepadaNya dengan penuh kesungguhan, berurai air mata dan penuh kerendahan hati..

Nah sekarang ada sebuah pertanyaan kecil : ‘sampai sejauh mana kita mau menolong orang lain?’.
Karena tak semua manusia bersedia membantu ketika diperlukan sesamanya, ada yang berdalih tidak bisa dan ada pula yang bahkan ‘niat ‘ dalam hati saja enggan.. Pancen bener, menolong orang itu tidak gampang memerlukan kebesaran atau keluasan jiwa.

Saya mengajak teman-teman untuk berfikir sejenak mengenai tiga hal :
Allah senantiasa menolong kita selama kita menolong orang lain
– Bahwa pertolongan Allah itu begitu dekat..
– Barang siapa berserah kepada Allah dan berbuat baik, ia berpegang pada tali yang kokoh

Salah satu hal yang mungkin membantu hati kita adalah dengan mengingat Hadis dari Rasulullah
“..Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim).
Kita ini lemah, namun dalam hal ini lemah janganlah dijadikan alasan untuk tak mau menolong, tetapi  spirit yang indah itu adalah kita lemah kita memerlukan pertolongan Allah maka sepatutnya kita senantiasa mau menolong orang lain dengan harapan Allah akan selalu menolong kita..

Didalam Alquran ada sebuah firman Allah yang inspiratif mengenai hal ini
..Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.. “ QS AlBaqarah 214.
Kebanyakan penghalang manusia untuk menolong mahluk Allah ketikan diminta  adalah terlalu berpikir tentang diri sendiri, mengkhawatirkan dirinya sendiri takut ia kekurangan kalau miliknya diberikan pada orang lain, atau kesusahan dan kerepotan kalau waktunya diperuntukkan membantu orang lain. Padahal pertolongan Allah begitu dekat kepadanya.. Dengan keyakinan yang benar dan mantap, niscaya kita takkan ragu menolong orang lain walau harus memberi milik kita karena kita sendiri dijanjikanNya pertolongan yang dekat..

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” QS Lukman 22.
Sebenarnya agama itu tidak rumit, kompleks, dan panjang berbelit.. Ketika kita mau menolong orang lain, berpikir simpel aja rileks tidak perlu takut atau khawatir banyak hal lainnya, karena Allah sudah meberitakan kepada kita bahwa “berserah diri dan berbuat baik” itu sudah merupakan tali yang sangat kokoh.. Berserah merpercayakan hati kita kepada Allah, sedangkan berbuat baik adalah amal shalih, termasuk menolong orang lain..

Nahh.. sudahkah kita menolong orang lain hari ini? Kalau kita sering merasa kesusahan, boleh jadi itu pertanda kita enggan menolong orang lain, hingga Allah menginginkan kita mawas diri..
(gianluigimario)