luka dan kehilangan (puisi kecil)

di dunia ini, luka dan kehilangan itu menakutkan
membuat meringis, berair mata
lemas tak mampu berdiri
seakan gelap di sekeliling

apa benar luka dan kehilangan itu menakutkan?

kenyataannya ya.. kalau kita terbawa arus
bila diri tenggelam memang dada ini sesak
sesal dan marah meronta
makan atau tidur serasa asing

itu sajakah?
sebenarnya luka dan kehilangan itu bak mata uang
ada sisi ketuhanannya jika kita renungi
sarat pengobatan ruhani.

dengan meringis kesakitan, kita meminta tolong
dari airmata, kita menyadari kelemahan
melalui kelumpuhan, kita memohon kekuatan
kita menyadari tanpa Cahaya tak mampu berjalan
mengalami kehilangan, kita jadi tahu, arti sebuah kepemilikan
mengerti ketidak kekalan
menghargai pemberian.

coba bayangkan, ketika kita bahagia
pernahkah meminta tolong?
kita jumawa akan kekuatan kita
ingatkah untuk bersyukur?

sakit itu nyata tak bisa dipungkiri
namun kemuliaanya lebih terang..

maka, tidak bisakah kita mengatakan ini :
” adakah yang lebih baik dari luka dan kehilangan?”

Gianluigimario

Mengenai Ridha.

Ridha berasal dari kata radhiyah yang memiliki arti “rela” dan “menerima dengan suci hati”. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1.Ridha hamba terhadap hukum Allah.
ORang yang ridha terhadap hukum Allah akan senantiasa menjalankan perintah Allah dengan ikhlas, selalu bersyukur dan menjauhi segala yang dibenci Allah swt.
2.Ridha Allah terhadap hamba-Nya.
Jika Allah swt. meridhai hamba-Nya, Ia akan memberikan tambahan kenikmatan, pahala dan meninggikan derajat hamba-Nya tersebut.

Rida adalah puncak daripada kecintaan yang diperoleh seorang salik selepas menjalani proses ‘ubudiyyah yang panjang kepada Allah SWT. Rida merupakan anugerah kebaikan yang diberikan Tuhan atas hambaNya daripada usahanya yang maksima dalam pengabdian dan munajat. Rida juga merupakan manifestasi amal soleh sehingga memperoleh pahala daripada kebaikannya tersebut.

Allah berfirman yang bermaksud:
Dan keredhaan Allah adalah lebih besar.” (QS.At-Taubah:72)
Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS 98: 8).
Hai jiwa yang tenang kembali kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam syurgaKu.”(QS.Al-Fajr:27-30)

Selengkapnya

Tawakkal kepada Allah

Allah berfirman dalam surat al-Mâidah ayat 3 23 :

وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوْا اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. (المائدة: ۳)

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”.

Secara esensial (hakiki) tawakal merupakan kondisi ruhani yang lahir dari tauhid, yang pengaruhnya terwujud dalam amal nyata.
Para sahabat dan tabiin memberikan beberapa pengertian tentang tawakal, diantaranya:
– Tawakal adalah amal hati (Imam Ahmad)
– Tawakal artinya melepaskan diri bersama kehendak Allah (Sahl)
– Ridha terhadap Allah sebagai pelindungnya (Yahya bin Mu’adz)
– Melepaskan berbagai sesembahan dan memotong segala sebab, tidak bergantung kepada sebab (Dzun-Nun)
– Menghempaskan badan dalam ubuidyah dan mengaitkan hati dengan rububiyah dan ketenangan hati terhadap kecukupan yang diberikan kepadanya. Jika diberi ia bersyukur dan jika ditahan ia bersabar (Abu Turab An-Nakhsyaby)

Selengkapnya

Ungkapan-ungkapan mengenai Sabar.

“…Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d [13]:23-24)

Sabar pada hakekatnya adalah sebuah akhlak yang tertinggi di antara sekian banyak perangai jiwa. Sebuah akhlak yang berusaha untuk menghalangi seseorang melakukan tindakan tidak terpuji. Ini merupakan salah satu daya kejiwaan yang hanya dengannyalah jiwa bisa tegak dan berjalan lurus.

Sabar termasuk akhlak yang paling utama yang banyak mendapat perhatian Al-Qur’an dalam surat-suratnya. Al-Ghazali berkata, “Allah swt menyebutkan sabar di dalam al-Qur’an lebih dari 70 tempat.” Ibnul Qoyyim mengutip perkataan Imam Ahmad: “Sabar di dalam al-Qur’an terdapat di sekitar 90 tempat.”  Abu Thalib al-Makky mengutip sebagian perkataan sebagian ulama: “Adakah yang lebih utama daripada sabar, Allah telah menyebutkannya di dalam kitab-Nya lebih dari 90 tempat. Kami tidak mengetahui sesuatu yang disebutkan Allah sebanyak ini kecuali sabar.”

Sabar ada tiga macam:

  1. Sabar dengan pertolongan Allah|
    Sabar dengan pertolongan Allah: Bersabarlah, dan kesabaran itu hanya karena pertolongan Allah (An-Nahl:127).
  2. Sabar karena Allah
    Sabar karena Allah: engkau sabar karena cinta kepada Allah, mengharapkan keridhoanNya, ingin mendekat kepadaNya.
  3. Sabar bersama Allah
    Sabar bersama Allah: Hamba selalu dalam jalan Allah dalam perputaran hidupnya sehari-hari menyabarkan diri agar selalu bersamaNya berarti selalu pada jalanNya.

Selengkapnya

Tentang Fakir.

Diriwayatkan oleh At-Turmidzi dari Abu Umamah Radhiallahu anhu  bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menceritakan pengalamannya bertemu dengan malaikat Jibril alaihis salam. Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah ,’ wahai Muhammad, sesungguhnya Allah swt menyampaikan salam kepadamu. Dia berfirman : apakah engkau menginginkan jika Aku menjadikan gunung sebagai emas dan selalu bersamamu ?’ Rasulullah menjawab,’ sesunggunya dunia hanyalah kampung bagi orang yang tidak memiliki harta dan harta hanya dikumpulkan bagi orang-orang yang tidak mempunyai akal,’ Jibril a.s berkata, ‘wahai Muhammad, semoga Allah meneguhkan engkau dengan kalimat yang teguh ( hikmah ).’
Dalam hadis lain disebutkan,’ para nabi yang paling akhir masuk surga adalah Sulaiman putra Dawud as karena kedudukan kerajaannya. Dan sahabatku yang paling akhir masuk surga adalah Abdurrrahman bin Auf karena harta kekayaannya.’
Orang-orang fakir yang ikhlas dan tak berkeluh kesah menghadapi keadaannya adalah manusia yang paling utama. Ia tenang dan qanaah dari apa yang diterimanya atas karunia Allah. Karena itu Rasulullah  bersabda,’berbahagialah orang yang mendapatkan petunjuk kepada Islam dan kehidupannya merasa cukup (tidak menjadi beban orang lain) dan puas apa yang ada.’

Selengkapnya

Zuhud : Ketenangan dan Benteng

Dalam agama Islam, pemahaman zuhud bukanlah hidup membenci dunia dan mengisolir diri dari keramaian dengan mengabaikan kewajiban menafkahi keluarga. Zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta. Zuhud dalam pengertian yang benar adalah menekan hasrat dan menjauhkan diri dari kesenangan dunia untuk mencapai kesenangan akherat.  Zuhud terhadap dunia berarti lebih yakin dan percaya apa yang ada di tangan Allah dari pada apa yang ada di tangan manusia.

Hadist rasul SAW:

مَنِ ازْ دَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ زُهْدًا     لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ اِلاَّ بُعْدًا

“Barangsiapa yang di anugerahi ilmu oleh Allah, akan tetapi tidak semakin bertambah  ke-zuhud-annya, maka sejatinya orang yang seperti ini bukan bertambah melainkan semakin jauh dari jalan Tuhannya”.

Sikap zuhud dapat memberikan ketenangan kepada seseorang. Ia adalah benteng dari sikap sombong, kikir, serakah dan bermewah-mewahan. Kehancuran seseorang dan bahkan sebuah bangsa dicirikan dengan keempat sikap di atas.

Zuhud membebaskan dirinya secara penuh dari segala hal yang menghalangi kebebasannya.

Selengkapnya

Wara’ : Kebesaran agama

Wara’ adalah sikap meninggalkan perkara yang syubhat (samar atau tidak jelas halal haramnya) karena khawatir terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan. (at-Ta‘rifat, al-Jurjani, 1/325, Subulus Salam, 2/261).

Abu Abdirrahman al-’Umari az-Zahid t berkata, “Apabila seorang hamba memiliki sifat wara’ niscaya dia akan meninggalkan perkara yang meragukannya menuju kepada perkara yang tidak meragukannya.” (Jami’ul ‘Ulum, 1/281)

Sementara Hassan bin Abi Sinan t mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang lebih ringan/mudah daripada sikap wara’. Apabila ada sesuatu yang meragukanmu maka tinggalkanlah.” (Jami’ul Ulum,1/281)

Sikap wara’ secara mendetail hanya dapat direalisasikan oleh orang yang istiqamah jiwanya (dalam mengerjakan kewajiban dan meninggalkan perkara yang dilarang), seimbang amalannya dalam takwa dan wara’.

Selengkapnya

NIKMATNYA BERTAUBAT

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Ali-Imran [3]: ayat 135)

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.(Ali-Imran [3]: ayat 136)

Allah SWT dengan tegas menyatakan dalam ayat diatas bahwa salah satu ciri orang yang bertaqwa kepada Allah bukanlah orang yang tidak pernah berbuat dosa dan tidak punya salah, akan tetapi, orang yang bertaqwa yaitu mereka yang apabila melakukan kesalahan, mereka kemudian mengingat Allah serta bertaubat atas segala kesalahan yang dilakukannya. Mengingat manusia adalah tempat salah dan lupa, maka Allah dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya senantiasa membuka pintu taubat dan ampunan-Nya sampai kelak matahari terbit dari arah barat, saat dimana Qiamat kubra terjadi.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan akan hal itu dalam sabdanya :

“ Sesungguhnya Allah ta’ala membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu siang, dan Ia membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu malam, sehingga matahari terbit dari arah barat   (sampai qiamat ).” ( H.R. Muslim )

Selengkapnya

“Maqamat dan Ahwal”

Postingan ini adalah special edition.
mengapa? karena ini mengenai resensi salah satu buku yg pernah saya baca Al-Luma’ karya al-Sarraj (w. 378 H).
Kitab ini membahas tentang tingkatan2 menjadi kekasih Allah( mahkamat) dan pengalaman spiritual yg dialami oleh pejuang cinta (ahwal).
Siapa yg suka membaca silahkan dibaca.. Yang tidak suka ya, lewatkan saja..

Selanjutnya