4 orang yang paling dibenci oleh Allah…

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa nabi Musa alaihis salam bermunajat kepada Allah. Beliau berkata, ” Wahai Tuhanku, siapakah makhluq-Mu yang paling Engkau benci?
Allah menjawab, “Hai Musa, orang yang paling Kubenci adalah orang sombong, keras hati, bicara sembarangan, dan tidak lapang dada.

Catatan singkat :
Dari kisah Nabi Musa ini dapatlah kita tarik 4 macam orang yang dibenci Allah :
– Sombong
– keras hati
– bicara sembarangan
– tidak lapang dada/sabar

Apakah kita termasuk salah satunya??? semoga mampu kita perbaiki sehingga kita termasuk yang dicintai oleh Allah, bukan yang di benci-Nya..

Hindarilah selalu mengikuti hawa nafsu dan banyak berangan..

Diceritakan dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Aku peringatkan umatku terhadap sesuatu yang kutakuti, yaitu mengikuti hawa nafsu dan terlalu berangan-angan. 
Mengikuti hawa nafsu akan menjauhkan diri dari kebenaran, sedangkan terlalu berangan-angan akan melupakan akhirat. Kemudian katakanlah, sesungguhnya mencegah hawa nafsu adalah pondasi ibadah..

Catatan kecil :
Dua hal yang diingatkan oleh Rasulullah adalah :
– (selalu) mengikuti hawa nafsu
– terlalu banyak angan

Sebagai manusia tentu kita memiliki nafsu yang akan menjadikan kita terus berkembang dan bertahan hidup, namun jangan sampai selalu diperturutkan karena akan merusak. Nafsu amarah misalnya, jika selalu diikuti akan menghancurkan diri sendiri.
Demikian pula terlalu “berkhayal”,  namun tanpa tindakan. Dengan meniatkan kerja untuk ibadah, dan banyak bersyukur niscaya kita tidak akan punya banyak waktu mengkhayal sia-sia dan lupa negeri akhirat.

Semoga berguna..

Bagaimana Nabi Musa alaihis salam meraih ridha Allah..

Dalam satu cerita disebutkan, Nabi Musa alaihis salam pernah mengatakan,
Ya Tuhan, tunjukkanlah diriku pada perbuatan yang apabila kukerjakan, Engkau akan ridha kepadaku?

Allah Subhana wa ta’ala berfirman,
Engkau tidak akan mampu mengerjakan hal itu.
Nabi Musa lalu menjatuhkan diri bersujud dan berdoa.

Setelah itu Allah menurunkan wahyu, ” Wahai putera Imran, Aku akan ridha apabila Engkau ridha terhadap keputusan-Ku.

Catatan kecil :
Kisah ini cukup singkat, namun demikian kita dapat mengambil sebuah pelajaran besar yang mudah di ingat yakni tentang Ridha Allah.
Darimana kah asal keridaannya Allah itu? Asalnya adalah kita ridha atau menerima apa yang Dia putuskan atas kita…

Sesuatu yang tentunya amat sulit karena melawan sifat manusiawi kita, namun itulah salah satu sebab keridaan Allah..
Semoga bermanfaat..
(gianluigi mario)

 

 

 

Nabi Ibrahim alaihis salam dimintai jamuan orang Majusi

Dikisahkan seorang Majusi bertamu ke rumah Ibrahim alaihis salam. Dia meminta jamuan kepadanya.
Ya, dengan syarat kamu harus masuk islam? ” tawar Ibrahim.
Orang Majusi itu tidak mau. Dia pergi meninggalkan Ibrahim alaihis salam.

Allah pun menegur Ibrahim, ” Hai Ibrahim, semenjak 50 tahun Aku memberinya makan, meski dia kafir. Seandainya engkau bisa memberinya sesuap saja, bisakah tanpa menuntut mengubah agamanya…?

Ibrahim merasa bahwa wahyu itu merupakan teguran halus dari Allah. Dia merasa bersalah atas sikapnya terhadap orang Majusi, kemudian keluar menelusuri jejaknya sampai menemukannya.
Dia meminta maaf atas sikapnya yang kurang menyenangkan.

Si Majusi heran lalu menanyakan apa sebabnya. Ibrahim pun menjelaskannya hingga orang Majusi itu memeluk islam dengan sendirinya.

Hikmah kisah :

Cerita Nabi Ibrahim ini merupakan contoh sifat ksatria (prawira). Jika kita melakukan kesalahan, seyogyanya kita meminta maaf dengan sopan, meski kepada orang non muslim.
Hikmah lainnya adalah :
– Kita tidak bisa memaksakan orang masuk Islam, Allah lah yang akan membuka hatinya.
– Allah maha penjamin rezeki seluruh mahluqNya. sifat Rahman-Nya melingkupi muslim maupun nonmuslim.
– Kita sebaiknya menjamu setiap tamu, sebagaimana Nabi Muhammad juga memberi banyak contoh.,

Semoga bermanfaat..
(gianluigi mario)

 

 

 

Menangis karena rindu kepada Allah..

Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ” Nabi Syuaib alaihis salam pernah menangis sampai buta matanya, kemufdian Allah mengembalikan pandangan matanya.

Lalu ia menangis lagi sampai buta matanya, kemudian Allah mengembalikan lagi pandangan matanya. Beliau pun menangis lagi, kemudian Allahj mengembalikan lagi pandangan matanya, lalu Allah mewahyukan kepadanya, ‘ Jika tangisan ini karena surga, maka telah aku izinkan surga ini untukmu. Jika karena takut kepada neraka, maka aku lindungi kamu dari neraka.’

Jawab Nabi Syuaib, ‘bukan, akan tetapi karena aku rindu kepada-Mu.’

Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Syuaib, ‘ karena itulah Aku menjadikanmu Nabi-Ku, dan kalim-Ku (diberi kesempatan berbicara langsung dengan Allah) selama sepuluh tahun.”

Mutiara kisah :

Mungkin ada beberapa hal yang dapat kita teladani dari kisah ini :
– Rindu akan mengantarkan kepada kedudukan yang tinggi.
– Allah tak akan menyiakan orang yang mencintaiNya.
– Berapa kali pun kita sakit karena mencintaiNya, Allah akan menyembuhkannya. Apapaun yang menjadi hajat dan harapan, akan dikabulkanNya..

Pernahkah kita menangis karena rindu kepada Allah?

Kisah Rasulullah menyuapi pengemis buta

“Wahai saudaraku! Jangan engkau dekati Muhammad itu. Dia orang gila. Dia pembohong. Dia tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya dan engkau akan menjadi seperti dia,” kata seorang pengemis buta Yahudi berulang-ulang kali di satu sudut pasar di Madinah pada setiap pagi sambil tangannya menadah meminta belas orang yang lalu-lalang.

Orang yang lalu-lalang di pasar itu ada yang menghulurkan sedekah karena kasihan malah ada juga yang tidak mempedulikannya langsung.

Pada setiap pagi, kata-kata menghina Rasulullah SAW itu tidak lekang daripada mulutnya seolah-olah mengingatkan kepada orang ramai supaya jangan terpedaya dengan ajaran Rasulullah SAW. Seperti biasa juga, Rasulullah SAW ke pasar Madinah. Apabila baginda sampai, baginda terus menjumpai pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan sopan tanpa berkata apa-apa. Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali, ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya.Perbuatan baginda itu dilakukannya setiap hari sehinggalah baginda wafat. Sejak kewafatan baginda, tidak ada siapapun yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi.

Pada satu pagi, Abu Bakar radhiallahu anhu pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam untuk menanyakan sesuatu kepadanya.
“Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya  Abu Bakar radhiallahu anhusembari duduk di dalam rumah Aisyah.

“Ayahandaku, boleh dibilang apa saja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayani ayahandanya dengan hidangan yang tersedia.

“Apakah dia wahai anakku, Aisyah?”

“Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak kepergian Rasulullah, sudah tentu tidak ada sesiapa lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” kata Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu.

“Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” kata Abu Bakar radhiallahu anhu kepada anaknya.

Pada keesokan harinya, Abu BAkar radhiallahu anhu membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu.  Abu Bakar radhiallahu anhu segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu.
“Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu mengherdik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan  Abu Bakar radhiallahu anhu itu seperti kebiasaan.
“Akulah orang yang selalu menyuapmu setiap pagi,” jawab Abu Bakar radhiallahu anhu sambil memerhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah.

“Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuap ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah aku hendak menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan  Abu Bakar radhiallahu anhu yang masih memegang makanan itu.

“Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapmu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” ujar  Abu Bakar radhiallahu anhu sambil mengesat air matanya yang sedih.

“Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu.

“Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati.

“Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang tersedu.

“Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” ucap Abu Bakar radhiallahu anhu. Pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara.

“Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu.

“Ya benar. Kamu tidak percaya?”

“Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon maaf kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis terisak-isak.

“Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini karena dia telah meninggalkan kita,” kata  Abu Bakar radhiallahu anhu

“Kalau begitu, aku mau kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon ampunan Allah,” ujar pengemis buta itu.

Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Abu Bakar radhiallahu anhu. Keperibadian Rasulullah  telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah..

Catatan kecil :
Beberapa hikmah yg bisa kita teladani yaitu,
– Rasul itu pemaaf, tidak membalas cercaan dg emosi
– Rasul juga lembut perangainya
– Kebaikan yang menyentuh, bisa saja membuka pintu hidayah
– Teladan untuk tetap  berbaik kepada yang memerlukan, meski beda agama
– Menolong itu jangan tanggung.. namun sepenuh hati
Bila mau menyuapkan, lakukan dengan lembut juga lunakkan makanan tersebut untuk memudahkan ditelan..

Jika ada orang yang berbuat kurang baik, berusahalah sedapatnya membalas dengan kemuliaan.. Menanggapi dengan emosi maka pertengkaran takkan berakhir dan kita sama buruknya dg orang itu. Lakukan dengan Hikmah.. Bukankah memaafkan lebih baik dari pembalasan?

Nah sudahkah kita melembutkan hati meneladani Rasulullah? mari memulai bersama..
(gianluigimario)

Lemah-lembut dan memudahkan

Aisyah radiallahu anha. berkata bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam  bersabda : “Sesungguhnya Allah swt menyukai sifat lemah lembut dalam setiap urusan.” (HR Bukhori, Muslim, dan Ahmad)

ArRifqu bermakna lemah lembut, wajah ceria, dan lapang dada.

Seorang  pria Badui masuk masjid Nabawi, dan saat ituNabi saw sedang duduk-duduk bersama  para sahabatnya, tiba-tiba pria tersebut mendatangi salah satu sudut masjid dan kencing. Serentak kaum muslimin berdiri untuk memukulinya, tetapi Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda dengan penuh kelembutan, ” Biarkanlah dia, siramlah kencingnya dengan seember air. Sesungguhnya aku diutus untuk memudahkan dan tidak untuk menyulitkan.” (HR Bukhari)

Lihatlah betapa luas kelembutan yang da pada diri Nabi shalallahu alaihi wasallam. Perhatikanlah kebesaran hati dan sifat pemaaf beliau.

Pernah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam memasuki shalatnya, yang kemudian diikiuti banyak makmum. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan anak kecil dari salah seorang makmum wanitanya, maka beliau pun segera meringankan shalatnya. Setelah selesai shalat beliau saw bersabda : “Ketika sedang berdiri dalam shalat, aku ingin memanjangkannya, aku mendengar tangis seorang bayi, maka aku persingkat karena aku tidak ingin membuat ibunya gelisah.” HR Bukhori dan Muslim. <dari ansilham>

Catatan kecil :

Dalam setiap bersikap sedapatnya kita berlemah lembut mencontoh Rasul..ketimbang bersikap kasar, karena :
– Allah menyukai sifat lemah lembut
– Rasulullah diutus untuk memudahkan
– Berlapang dada dan meringankan beban orang lain adalah sunnah beliau
Kecuali ketegasan dalam hal-hal tertentu yang diwajibkan syara’..

Demikian.. monggo.. (gianluigimario)

Kisah Unta tercepat Rasulullah yang dikalahkan..

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاقَةٌ قَالَ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا الْفَزَارِيُّ وَأَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَتْ نَاقَةٌ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُسَمَّى الْعَضْبَاءَ وَكَانَتْ لَا تُسْبَقُ فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ عَلَى قَعُودٍ لَهُ فَسَبَقَهَا فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ وَقَالُوا سُبِقَتْ الْعَضْبَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يَرْفَعَ شَيْئًا مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ

Telah menceritakan kepada kami Malik bin Ismail telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas radhilayyahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai seekor unta. menurut jalur lain dia menuturkan; dan telah menceritakan kepadaku Muhammad telah mengabarkan kepada kami Al Fazari dan Abu Khalid Al Ahmar dari Humaid ath Thawil dari Anas mengatakan;

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mempunyai unta yang diberi nama ‘Adhba’. Unta itu tak pernah terkalahkan (jika pacuan). Selanjutnya ada seorang arab badui diatas unta mudanya dan berhasil mengalahkan unta itu. Hal ini menjadikan kaum muslimin merasa terpukul dan mereka berujar;  “Hah, Unta ‘Adhba’ terlampaui, unta ‘Adhba’ menjadi terlampaui.” Kontan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “merupakan hak bagi Allah meninggikan sesuatu, kemudian suatu hari pasti merendahkannya.” Hadith Bukhari

Catatan kecil :

Hadis ini bisa jadi analog dengan mobil/motor yang dibanggakan sebagai tercepat, suatu ketika pasti menemui ada yang melebihinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam memberi contoh kepada kita mengenai suatu predikat keduniaan.
Suatu ketika, Allah bisa saja menganugerahkan seseorang itu kendaraan yang tercepat, atau  sesuatu dengan predikat terbaik.
Namun tidak ada hal di dunia ini yang abadi, demikian pula predikat tercepat atau terbaik itu suatu saat pasti ada yg akan mengalahkannya.

Sifat Bijak Rasul yang patut kita teladani disini adalah, memandang sesuatu predikat dunia itu biasa, tidak kecewa ketika kalah, tidak memperturutkan ambisi, dan mengembalikan hal itu kepada sifat Allah yang Maha tinggi.. Subhanallah.

Demikian.. (gianluigimario)

Kelembutan saat marah.

Ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam duduk bersama para sahabatnya, seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah masuk menerobos shaf, lalu menarik kerah baju Rasul dengan keras seraya berkata kasar, “Bayar utangmu, wahai Muhammad, sesungguhnya turunan Bani Hasyim adalah orang-orang yang selalu mengulur-ulur pembayaran utang.

Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu langsung berdiri dan menghunus pedangnya. “Wahai Rasulullah, izinkan aku menebas batang lehernya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam berkata, “Bukan berperilaku kasar seperti itu aku menyerumu. Aku dan Yahudi ini membutuhkan perilaku lembut. Perintahkan kepadanya agar menagih utang dengan sopan dan anjurkan kepadaku agar membayar utang dengan baik.

Tiba-tiba pendeta Yahudi berkata, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, aku datang kepadamu bukan untuk menagih utang. Aku datang sengaja untuk menguji akhlakmu. Tapi, aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat. Semua sifat itu telah terbukti dalam dirimu, kecuali satu yang belum aku coba, yaitu sikap lembut saat marah. Dan aku baru membuktikannya sekarang. Oleh sebab itu, aku bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Adapun piutang yang ada padamu, aku sedekahkan untuk orang Muslim yang miskin.”

Catatan kecil :

Beberapa pelajaran mulia dari kisah diatas :
– Ketika kita dipancing untuk marah, adalah hal yag sangat sulit untuk bersikap lembut.
Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam dicengkeram kerah bajunya, ditagih dihadapan sahabatnya, dan  suku Bani Hasyim dihina martabatnya, siapa tidak marah?
Namun salah satu akhlak Rasul yg utama adalah lembut (tentu adapula tempatnya untuk tegas)..
– Orang boleh menagih hutang, namun harus santun.
– Demikian pula yg berhutang wajib membayar tapi ingatkan dg baik.
– Bukanlah berperilaku kasar hal yang diserukan Nabi, namun kelembutan  hati.
.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu… ” Ali Imran 159
Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai kelembutan dan Allah memberi dampak positif pada kelembutan yang tidak diberikan kepada kekerasan. Dan tiada kelembutan pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan bila dicabut kelembutan dari sesuatu akan menjadikannya buruk.” (HR Muslim).

Mari berusaha bersikap lembut, alon-alon wae, damai..  Dan sungguh kita tak akan dapat melakukan itu kecuali atas pertolongan Allah..

Monggo..(gianluigimario)

Kisah Ibrahim dan 4 burung

Nabi Ibrahim alaihis salam yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin esekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.

Berserulah ia kepada Allah: ” Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati.”
Allah menjawab seruannya dengan berfirman: “Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku?”
Nabi Ibrahim alaihis salam menjawab: ” Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu.”

Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim alaihis salam  lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.

Selengkapnya