Kasih Sayang kepada makhluq Tuhan.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Musa alaihissalam berkata, “Wahai Tuhanku, dengan apakah Engkau menjadikanku sebagai orang suci?

Allah menjawab ” Dengan kasih sayangmu terhadap makhluq-Ku. Pada saat kamu menggembala kambing-kambing milik Syuaib tiba-tiba ada seekor kambing yang melarikan diri. Lalu kamu bersusah payah mencarinya, hingga akhirnya kamu menemukan kambing itu dan memegangnya di pangkuanmu, kamu berkata kepada kambing itu, ‘ Kenapa kamu membuatku capek dan melelahkan dirimu sendiri ?’.

Dengan kasih sayangmu terhadap makhluq-Ku, aku menjadikanmu sebagai orang pilihan dan aku memuliakanmu dengan kenabian “.
Wallahu’ alam.

Catatan kecil :

Hendaknya kita menyayangi sesama makhluk Allah, tidak menyakitinya. Ini seperti dicontohkan Nabi Musa alaihissalam, yang tidak menyiksa kambing meski telah melelahkan beliau. Malah beliau memangkunya dengan penuh sayang.

Sungguh tinggi derajat kasih sayang dihadapan Allah hingga Dia memilih Musa alaihissalam atas sebab kasihsayangnya kepada kambing..
demikian.. monggo..(gianluigimario)

Syukurnya Nabi Musa alaihissalam.

Dari Abi Umar as-Syaibani berkata: “Nabi Musa alaihissalam telah berdoa semasa berada di Thuur, Sinai: “Wahai Tuhan, sesungguhnya aku telah menunaikan solat menuju keridhaan-Mu, aku telah bersedekah menuju keridhaan-Mu, aku telah menyampaikan risalah agama menuju keridhaan-Mu. Maka adakah aku telah mensyukuri-Mu?” Lalu Allah berfirman: “Wahai Musa, sekarang engkau telah mensyukuri-Ku”.

Nabi Musa alaihissalam telah berkata: “Bagaimana aku mensyukuri-Mu? Semua amalan-ku yang kulakukan sebaik-baiknya pun tak sebanding dengan nikmat-Mu yang paling kecil”. Lalu Allah telah berfirman kepadanya: “Wahai Musa engkau sekarang telah mensyukuri-Ku”.

Telah diriwayatkan bahawa Nabi Musa Alaihis Salam pernah bertanya kepada Tuhannya: “Ya Robb, bagaimana caranya saya bersyukur kepada Engkau? Robbnya menjawab: “Ingatlah Aku, dan janganlah kamu lupakan Aku. Jika kamu mengingat Aku niscaya kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmatKu”.

Catatan kecil :

Dari ketiga riwayat diatas, dapat ditarik 3 hal tentang cara syukur Nabi Musa alaihissalam yang diajarkan Allah, yaitu :
1. Shalat, sedekah, dan berdakwah dengan niat untuk keridhaan-Nya.
2. Membaguskan amal shalih, dan mengagungkan nikmat-Nya.
3. Senantiasa mengingat Sang Pemberi Nikmat (Allah).

“Hakikat syukur melalui pengiktirafan (pengakuan) nikmat kepada pemberi nikmat ialah tidak menggunakan (nikmat) pada perkara yang bukan ketaatan”. (Al-Qurtubi)

Demikian.. monggo di share.. (gianluigimario)

Musa عليه السلام mencari ilmu.

Hadis riwayat Ubay bin Kaab رضي الله عنه: Ia berkata : Dari Said bin Jubair ia berkata: Aku pernah berkata kepada Ibnu Abbas رضي الله عنه  bahwa Naufan Al-Bukali beranggapan bahwa Musa عليه السلام  nabi Bani Israel adalah bukan Musa yang menjadi sahabat Khidhir. Ibnu Abbas berkata: Musuh Allah adalah pembohong. Aku pernah mendengar Ubay bin Kaab رضي الله عنه  berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم  bersabda:

Musa عليه السلام pernah berdiri berpidato di tengah-tengah Bani Israel.

Dia (Musa) lalu ditanya: Siapakah manusia yang paling berilmu? Dia menjawab: Akulah orang yang paling berilmu.

Allah lantas menegurnya karena dia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Allah lalu memberi wahyu kepadanya bahwa salah seorang hamba-Ku yang menetap di tempat pertemuan dua lautan adalah lebih berilmu daripada kamu.

Selanjutnya Musa bertanya: Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat bertemu dengannya? Dikatakan kepadanya: Bawalah seekor ikan dalam sebuah keranjang. Di mana saja kamu kehilangan ikan tersebut, maka di situlah dia berada.

Kemudian Musa pun berangkat bersama muridnya bernama Yusya’ bin Nun. Musa عليه السلام membawa ikan tersebut dalam sebuah keranjang. Dia dan muridnya berangkat dengan berjalan kaki sampai keduanya mencapai sebuah batu karang besar dan tidurlah Musa عليه السلام dan muridnya. Sementara ikan yang berada dalam keranjang bergerak dan keluar dari keranjang lalu jatuh ke laut. Kemudian Allah menahan ombak, sehingga menjadi seperti sebuah lengkungan buat melintas ikan tersebut. Musa عليه السلام dan muridnya terheran-heran. Mereka meneruskan sisa perjalanan pada siang dan malam hari sedangkan murid Musa عليه السلام lupa untuk memberitahukannya.

Keesokan paginya Musa عليه السلام berkata kepada muridnya: Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Tetapi (Musa عليه السلام) tidak akan merasa letih sebelum dia sampai di tempat yang diperintahkan.

Muridnya berkata: Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di sebuah batu karang tadi, aku lupa menceritakan tentang ikan itu, setanlah sebenarnya yang membuatku lupa untuk menceritakannya, ikan itu telah masuk ke laut dengan cara yang sangat aneh sekali.

Selengkapnya

Si Miskin dan Si Kaya.

Nabi Musa alaihissalam  memiliki umat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Ada golongan yang kaya dan ada juga golongan yang miskin.

Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa alaihissalam. Ia kelihatan begitu miskin, pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu.
Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa alaihissalam, “Ya Nabi Allah, tolong sampaikan kepada Allah  permohonanku ini agar Allah  menjadikan aku orang yang kaya.”
Nabi Musa alaihissalam tersenyum dan berkata kepada orang itu, “Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah .

Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, ” Bagaimana aku mau banyak bersyukur, sedangkan aku jarang dapat makan, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu pasang ini saja! “.
Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tidak lama kemudian ada seorang kaya datang menghadap Nabi Musa alaihissalam. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa alaihissalam, “Wahai Nabi Allah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, kadang kala aku merasa terganggu dengan hartaku itu.”
Nabi Musa alaihissalam pun tersenyum, lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah .”

“Ya Nabi Allah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah ?. Allah  telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya”, jawab si kaya itu.

Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah  mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaian pun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah.
Dari Kisahteladan.com

Catatan singkat :

Pelajaran sederhana dari kisah ini yaitu,
– Syukur adalah hal yang sangat penting.
Nabi Musa alaihissalam mengingatkan bahwa syukur itu diperlukan dalam setiap keadaan. Mengapa si miskin harus syukur ? karena bila disadari tentu nikmat sehat, nikmat hidup, nikmat iman itu sendiri sudah pemberian yang sangat besar..

– Allah mengetahui keadaan yang terbaik untuk seseorang.
Dalam keadaan berlimpahan pun, sesungguhnya syukur tak boleh lupa. Kalau Allah menitipkan kekayaan, bisa jadi itu ujian agar kita beramal dengan lebih banyak dari orang lain.. Ini kesempatan yang kudu kita manfaatkan.

– Syukur dapat menambah nikmat dan kurang syukur bisa menguranginya.
Ini senada dengan ayat yang mashur dai surat Ibrahim “..bersyukurlah maka akan kutambah nikmatku.. “. Bersyukur akan menambah nikmat dan pahala, sedangkan kufur mengurangi nikmat dan mendapat siksa..maka bukankah pilihan yang lebih baik adalah yang pertama ??

Monggo..

Bouraq yang menangis.

Adapun terjadinya peristiwa Israk dan Mikraj adalah karena bumi merasa bangga dengan langit. Berkata dia kepada langit, “Hai langit, aku lebih baik dari kamu kerana Allah s.w.t. telah menghiaskan aku dengan berbagai-bagai negara, beberapa laut, sungai-sungai, tanam-anaman, beberapa gunung dan lain-lain.” Berkata langit, “Hai bumi, aku juga lebih elok dari kamu karena matahari, bulan, bintang-bintang, beberapa falah, buruj, ‘arasy, kursi dan syurga ada padaku.”
Berkata bumi, “Hai langit, ditempatku ada rumah yang dikunjungi dan untuk bertawaf para nabi, para utusan dan arwah para wali dan solihin (orang-orang yang baik).”

Bumi berkata lagi, “Hai langit, sesungguhnya pemimpin para nabi dan utusan bahkan sebagai penutup para nabi dan kekasih Allah s.w.t. seru sekalian alam, seutama-utamanya segala yang wujud serta kepadanya penghormatan yang paling sempurna itu tinggal di tempatku. Dan dia menjalankan syari’atnya juga di tempatku.” Langit tidak dapat berkata apa-apa, apabila bumi berkata demikian. Langit mendiamkan diri dan dia mengadap Allah s.w.t. dengan berkata, “Ya Allah, Engkau telah mengabulkan permintaan orang yang tertimpa bahaya, apabila mereka berdoa kepada Engkau. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan bumi, oleh itu aku minta kepada-Mu ya Allah supaya Muhammad Engkau dinaikkan kepadaku (langit) sehingga aku menjadi mulia dengan kebagusannya dan bangga.”

Selengkapnya

Nabi Sulaiman dan Kuda terbang.

Sulaiman `alaihis salam begitu cintanya kepada kuda untuk digunakan jihad di jalan Allah. Beliau memiliki kuda-kuda yang kuat, cepat dan bersayap. Kuda-kudanya berjumlah 20 ribu. Ketika ia memeriksa dan mengatur kuda-kuda tersebut, ia ketinggalan shalat Ashar karena lupa, bukan di sengaja.

Saat ia mengetahui bahwa ia ketinggalan melakukan shalat karena kuda-kuda tersebut, ia pun bersumpah, ‘Tidak, demi Allah, janganlah kalian (kuda-kudaku) melalaikanku dari menyembah Tuhanku.’ Lalu beliau memerintahkan agar kuda-kuda itu disembelih. Maka beliau memukul leher-leher dan urat-urat nadi kuda-kuda tersebut dengan pedang.

Ketika Allah mengetahui hamba-Nya yang bernama Sulaiman menyembelih kuda-kuda tersebut karena Diri-Nya, karena takut dari siksa-Nya serta karena kecintaan dan pemuliaan kepada-Nya, karena dia sibuk dengan kuda-kuda tersebut sehingga habis waktu shalat. Sebab hal tersebut, Allah lalu menggantikan untuknya sesuatu yang lebih baik dari kuda-kuda tersebut, yakni angin yang bisa berhembus dengan perintahnya, sehingga akan menjadi subur daerah yang dilewatinya, perjalanannya sebulan dan kembalinya juga sebulan.Dan tentu, ini lebih cepat dan lebih baik daripada kuda.

Karena itu, benarlah sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam,

إِنَّكَ لاَ تَدَعُ شَيْئًا إِتِّقَاءً لله تَعَالَى إِلاَّ أَعْطَاكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهُ) رواه أحمد و البيهقي)

Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah kecuali Allah akan memberimu (sesuatu) yang lebih baik daripadanya.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi, hadits shahih).

Pelajaran : 

Beberapa hikmah kisah ini adalah
* Jangan sampai sesuatu urusan (sepenting apapun) melalaikan dari shalat.
* Bolehnya mencintai kendaraan, yang membantu ibadah kepada Allah.
* Cinta kepada Allah harus melebihi kepada apapun selainNya.
Nabi Sulaiman menyembelih kuda yang begitu dia cintai karena cinta kepda Allah, dan takut kecintaannya kepada kuda akan melalaikannya dari Allah.
* Allah tidak akan menyiakan orang yang mencintaiNya..

Demikian, monggo dishare..


 

Belajar pasrah dari Ibrahim alaihissalam.

Tidak ada yang membenci agama Ibrahim kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Kami telah memilihnya di dunia. Dan di akherat ia termasuk orang yang soleh. Ketika Tuhan berfirman kepadanya, “Berserah dirilah!” Ibrahim menjawab, “Aku telah berserah diri kepada Tuhan semesta Alam.” (QS. Al Baqarah, 2: 130-131)
Sesungguhnya agama disisi Allah adalah Islam (berserah diri kepadaNya)…(Al Imran : 19)
Ikutilah agama orang tuamu, Ibrahim. Dia telah menamaimu sebagai muslim (yang berserah diri), dahulu dan dalam Al Quran ini… (Al Hajj : 78)

Dan masih banyak lagi ayat – ayat yang menyebutkan sikap berserah diri kepada Allah. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa berserah diri adalah sebuah keadaan atau sikap yang agung. Sikap berserah diri meliputi aspek lahir dan batin. Lahirnya taat kepada Allah, dan batinnya tidak menentangNya.

Saya ingat akan sosok rosul dan simbol penyerahan diri pada seorang Nabi Ibrahim. Sikap pasrah sempurna seorang hamba yang tidak menentang seluruh keputusan Allah dan berserah diri pada ketentuannya. Menarik untuk mengangkat tema berserah diri  Nabi Ibrahim.

Bukankah ketika Ibrahim a.s. diperintah oleh Allah untuk berserah diri, ia berkata, “Aku telah berserah diri kepada Tuhan semesta alam.”

Ingatkah kita ketika ia di ikat di ketapel besar (manjanik) untuk dipanggang hidup2, para malaikat berdoa untuknya, ” Tuhan, kekasih-Mu tengah mendapat ujian seperti yang Engkau ketahui.”
Tuhan menjawab, “Jibril, temuilah Ibrahim. Jika ia meminta tolong kepadamu, tolonglah! Namun jika tidak, biarkanlah. Aku bersamanya.”
Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, “Ada yang kau butuhkan?”
Ibrahim menjawab, “Kepadamu, aku tidak butuh apa-apa. Aku hanya membutuhkan kepada Allah.”
Dan Jibril berkata, “Maka mintalah kepada-Nya!”.
Dan berkata Ibrahim, “Cukuplah bagiku bahwa Dia mengetahui keadaanku.”

Selengkapnya

Wanita Tua dan Nabi Yusuf

Konon ketika Yusuf dijual pada orang-orang Mesir, maka mereka itu memperlakukannya dengan ramah. Banyak para pembeli dan karena itu, para pedagang memberikan harga padanya senilai dengan minyak kesturi dari lima sampai sepuluh kali berat badannya.
Sementara itu, dalam kegirangan yang amat sangat, seorang wanita tua lari mendekat, dan menyelusup di antara para pembeli itu, ia pun berkata pada salah seorang bangsawan Mesir, “Biarlah kubeli orang Kanaan itu, karena aku ingin sekali memiliki orang muda itu. Aku telah memintal sepuluh kumparan benang untuk membeli dia, maka ambillah benang itu dan berikan Yusuf padaku, kemudian selesailah perkara itu.”

Para pedagang tersenyum dan berkata, “Keluguanmu telah menyesatkan dirimu. Mutiara pelik ini tidak teruntuk bagimu; orang-orang itu telah menawarnya dengan seratus barang-barang berharga. Mana mungkin kau menyaingi mereka dengan beberapa kumparan benangmu?
Selengkapnya

Orang yang di surga bersama Musa.

Nabi Musa alaihis salam adalah Nabi yang bisa bercakap dengan ALLAH. Setiap kali hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan ALLAH. Nabi Musa sering bertanya dan ALLAH akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi – nabi lain.
Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada ALLAH, “ Ya ALLAH, siapakah orang di surga nanti yang akan bersama dengan aku ?”
ALLAH pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung, serta tempat tinggalnya.
Setelah mendapat jawaban, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikuti tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat yang dituju.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk disitu, beliau bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Tuan rumah itu tidak melayani Nabi Musa. Dia masuk ke dalam kamar dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi musa terkejut melihatnya.
Ada apa ini ?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.

Pemuda yang berbakti dan Sulaiman.

Nabi Sulaiman alaihis salam adalah anak Nabi Daud alaihis salam. Sejak kecil lagi Nabi Sulaiman sudah pandai memberi pendapat yang adil dalam satu-satu hal. Setelah wafatnya Nabi Daud, Nabi Sulaiman membesarkan kerajaan di bawah pimpinannya. Pada suatu hari, Nabi Sulaiman mengadakan perjalanan bersama rombongannya yang terdiri daripada manusia dan jin. Tujuannya adalah untuk melihat kebesaran Allah S.W.T.

Perjalanan mereka pun tiba di tepi laut, tiba-tiba Nabi Sulaiman terpandang suatu benda yang menakjubkan di dalam laut. Dia memerintahkan pada jin Ifrit, “Wahai Ifrit, coba kamu lihat ke dalam laut, ada suatu benda yang menakjubkan aku, oleh karena itu kamu bawakan ia kemari”. Jin Ifrit yang gagah tak banyak bercakap karena takut akan murka Nabi Sulaiman dan terus menyelam ke dasar laut, namun dia tidak berjumpa apa-apa.Kemudian Nabi Sulaiman menyuruh jin yang lain menyelam untuk mendapatkan benda tersebut, namun malangnya jin tersebut pun gagal berbuat demikian. Akhirnya Nabi Sulaiman pun berkata kepada Ashif bin Barkhiya, yakni orang yang mendapat ilmu dari Allah, “Sekarang aku perintahkan kepadamu agar pergi ke laut dan dapatkan benda ajaib yang aku maksudkan”. Ashif bin Barkhiya pun menyelam dan terlihat suatu benda yang menyerupai kubah yang dibuat dari kapur putih.

Selengkapnya