Kasih Sayang kepada makhluq Tuhan.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Musa alaihissalam berkata, “Wahai Tuhanku, dengan apakah Engkau menjadikanku sebagai orang suci?

Allah menjawab ” Dengan kasih sayangmu terhadap makhluq-Ku. Pada saat kamu menggembala kambing-kambing milik Syuaib tiba-tiba ada seekor kambing yang melarikan diri. Lalu kamu bersusah payah mencarinya, hingga akhirnya kamu menemukan kambing itu dan memegangnya di pangkuanmu, kamu berkata kepada kambing itu, ‘ Kenapa kamu membuatku capek dan melelahkan dirimu sendiri ?’.

Dengan kasih sayangmu terhadap makhluq-Ku, aku menjadikanmu sebagai orang pilihan dan aku memuliakanmu dengan kenabian “.
Wallahu’ alam.

Catatan kecil :

Hendaknya kita menyayangi sesama makhluk Allah, tidak menyakitinya. Ini seperti dicontohkan Nabi Musa alaihissalam, yang tidak menyiksa kambing meski telah melelahkan beliau. Malah beliau memangkunya dengan penuh sayang.

Sungguh tinggi derajat kasih sayang dihadapan Allah hingga Dia memilih Musa alaihissalam atas sebab kasihsayangnya kepada kambing..
demikian.. monggo..(gianluigimario)

Musa عليه السلام mencari ilmu.

Hadis riwayat Ubay bin Kaab رضي الله عنه: Ia berkata : Dari Said bin Jubair ia berkata: Aku pernah berkata kepada Ibnu Abbas رضي الله عنه  bahwa Naufan Al-Bukali beranggapan bahwa Musa عليه السلام  nabi Bani Israel adalah bukan Musa yang menjadi sahabat Khidhir. Ibnu Abbas berkata: Musuh Allah adalah pembohong. Aku pernah mendengar Ubay bin Kaab رضي الله عنه  berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم  bersabda:

Musa عليه السلام pernah berdiri berpidato di tengah-tengah Bani Israel.

Dia (Musa) lalu ditanya: Siapakah manusia yang paling berilmu? Dia menjawab: Akulah orang yang paling berilmu.

Allah lantas menegurnya karena dia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Allah lalu memberi wahyu kepadanya bahwa salah seorang hamba-Ku yang menetap di tempat pertemuan dua lautan adalah lebih berilmu daripada kamu.

Selanjutnya Musa bertanya: Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat bertemu dengannya? Dikatakan kepadanya: Bawalah seekor ikan dalam sebuah keranjang. Di mana saja kamu kehilangan ikan tersebut, maka di situlah dia berada.

Kemudian Musa pun berangkat bersama muridnya bernama Yusya’ bin Nun. Musa عليه السلام membawa ikan tersebut dalam sebuah keranjang. Dia dan muridnya berangkat dengan berjalan kaki sampai keduanya mencapai sebuah batu karang besar dan tidurlah Musa عليه السلام dan muridnya. Sementara ikan yang berada dalam keranjang bergerak dan keluar dari keranjang lalu jatuh ke laut. Kemudian Allah menahan ombak, sehingga menjadi seperti sebuah lengkungan buat melintas ikan tersebut. Musa عليه السلام dan muridnya terheran-heran. Mereka meneruskan sisa perjalanan pada siang dan malam hari sedangkan murid Musa عليه السلام lupa untuk memberitahukannya.

Keesokan paginya Musa عليه السلام berkata kepada muridnya: Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Tetapi (Musa عليه السلام) tidak akan merasa letih sebelum dia sampai di tempat yang diperintahkan.

Muridnya berkata: Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di sebuah batu karang tadi, aku lupa menceritakan tentang ikan itu, setanlah sebenarnya yang membuatku lupa untuk menceritakannya, ikan itu telah masuk ke laut dengan cara yang sangat aneh sekali.

Selengkapnya

Orang yang di surga bersama Musa.

Nabi Musa alaihis salam adalah Nabi yang bisa bercakap dengan ALLAH. Setiap kali hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan ALLAH. Nabi Musa sering bertanya dan ALLAH akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi – nabi lain.
Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada ALLAH, “ Ya ALLAH, siapakah orang di surga nanti yang akan bersama dengan aku ?”
ALLAH pun menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung, serta tempat tinggalnya.
Setelah mendapat jawaban, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan mengikuti tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat yang dituju.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk disitu, beliau bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Tuan rumah itu tidak melayani Nabi Musa. Dia masuk ke dalam kamar dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. Nabi musa terkejut melihatnya.
Ada apa ini ?, kata Nabi Musa berbisik dalam hatinya penuh keheranan.

Nabi Musa memohon Hujan.

Di riwayatkan, bahawa pada zaman Nabi Musa as, kaum bani Israil pernah ditimpa musim kemarau panjang, lalu mereka berkumpul menemui Nabi Musa as dan berkata: “Wahai Kalamullah, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami!”
Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan mereka bersama-sama berangkat menuju ke tanah lapang. Dalam suatu pendapat dikatakan bahawa jumlah mereka pada waktu itu lebih kurang tujuh puluh ribu orang.Setelah mereka sampai ke tempat yang dituju, maka Nabi Musa as mulai berdoa.

Diantara isi doanya ituialah: “Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang memerlukan rumput dan orang-orang tua yang sudah bongkok. Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini, langit sangat cerah dan matahari semakin panas. Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkatan Nabi yang ummi yaitu Muhammad SAW yang akan Engkau utus untuk Nabi akhir zaman “.

Kepada Nabi Musa as Allah menurunkan wahyu-Nya yang isinya: “Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi bersama denganmu ini ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama empat puluh tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini! Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya.”
Selengkapnya