4 Makna “memelihara shalat”. (dari kutbah jumat)

Hari ini telat kutbah jumat, didului oleh adzan.. Untungnya masih rejeki saya bisa mendengar pak khatib ngasih wejangan.
Kok bisa telat ya? mencuci.. kok mencuci sebelum jumatan ? ada tamu ketempat saya, baru pulang jam 11 kurang.. 😛

Intinya, isi khutbah yang saya tangkap itu seperti ini :

Dalam Quran disebutkan mengenai pentingnya memelihara shalat, Nah apa yang dimaksud memelihara shalat?
ada 4 pengertian;
Pengertian pertama, yaitu “Tidak meninggalkan shalat“.
Dalam hal ini shalat tidak boleh ditinggalkan, karena shalat merupakan amalan yang utama. Apa alasannya shalat disebut amalan utama?
– perintah shalat langsung oleh Allah kepada Nabi shalallahi alaihi wasallam
– menurut Beliau, yang membedakan antara mukmin dan kafir itu shalat.
– shalat amalan yang pertama kali dihisab. Siapa baik shalatnya, maka perhitungan amalnya akan mudah.

Pengertian kedua adalah “memelihara syarat, rukun, dan sunnah shalat“.
Hal ini mutlak diperlukan dengan cara mencontoh shalat Nabi Shalallahu alaihi wasallam. Seperti sabda beliau yang masyhur, ‘.. shollu kama roaitumunni usolli..‘ , shalatlah sebagaimana kalian melihat aku salat. Dengan demikian, mulai dari wudhu, takbiratul ikram, rukuk, sujud, sampai salam itu semuanya kudu seperti yang dicontohkan dan dimaksudkan Nabi..

Selengkapnya

Menghadirkan Hati Dalam Shalat

Ibnu Qayyim rahimahullah  menguraikan wasiat Nabi Yahya bin Zakariya alaihimassalam  yang berbunyi :

وآمركم بالصلاة، فإذا صليتم، فلا تلتفتوا فإن الله ينصب وجهه لوجه عبده في صلاته ما لم يلتفت , رواه البخاري

“Dan aku memerintahkan kamu untuk shalat, jika kamu shalat maka janganlah kamu berpaling (menoleh) karena sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kewajah hamba tersebut dalam shalat selama dia tidak berpaling”. HR. Bukhari.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang iltifat (berpaling)nya seorang laki-laki dalam shalat, maka beliau bersabda : “ ( iltifat ) merupakan pencurian yang dilakukan oleh syetan dalam shalat seseorang. ( HR. Bukhari ).

Perumpamaan orang yang berpaling (iltifat) dalam shalatnya dengan pandangan ataupun hati sama seperti orang yang dipanggil oleh penguasa, kemudian dia berdiri di hadapan penguasa tersebut dan berbicara dengannya, ketika sedang berbicara orang tersebut menoleh (berpaling) ke kiri dan ke kanan, hatinya tidak sedang bersama penguasa tersebut sehingga dia tidak paham apa yang dibicarakan. Kira-kira tindakan apa yang akan dilakukan oleh penguasa tersebut menghadapi laki-laki ini?. Paling tidak penguasa tadi akan pergi meniggalkannya dalam keadaan marah, dan harga diri laki-laki tadi menjadi hilang di hadapan penguasa tersebut.

Selengkapnya